Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

PBB Prihatin atas Meningkatnya Retorika Militer terhadap Iran, Serukan Diplomasi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

PBB Prihatin atas Meningkatnya Retorika Militer terhadap Iran, Serukan Diplomasi
Foto: (Sumber: Arsip foto - Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS, Rabu (8/1/2020). ANTARA/Xinhua/Li Muzi/am..)

Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya retorika bernuansa militer terkait situasi di Iran, di tengah memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyatakan bahwa pihaknya sangat khawatir terhadap eskalasi pernyataan militeristik yang muncul dari berbagai pihak terkait Iran.

PBB Desak Negara-Negara Anggota Dorong Jalur Diplomatik

Dujarric menegaskan bahwa semua negara anggota PBB memiliki tanggung jawab untuk mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi, bukan dengan meningkatkan ketegangan melalui retorika militer.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa menyatakan bahwa dirinya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Trump mengumumkan sanksi ekonomi baru, yaitu negara mana pun yang menjalin hubungan bisnis dengan Iran akan dikenai tarif 25 persen untuk setiap kerja sama bisnis dengan Amerika Serikat.

Iran Siap Hadapi Opsi Militer, Namun Tetap Buka Dialog

Media The New York Times pada Senin, 12 Januari, melaporkan bahwa Pentagon tengah menyusun dan menyampaikan kepada Presiden Trump berbagai opsi serangan terhadap Iran, yang disebut lebih luas daripada laporan sebelumnya.

Menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera menyatakan bahwa Iran siap untuk berperang jika situasi memaksa.

Namun, Araghchi juga menegaskan bahwa pihaknya tetap terbuka untuk berdialog demi mencari solusi damai.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump secara terbuka menyatakan bahwa militer Amerika Serikat sedang mempertimbangkan “opsi yang sangat kuat” terhadap Iran.

Penulis :
Aditya Yohan