
Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, di Jakarta tercatat menguat terbatas sebesar 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp16.851 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.865 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi di tengah sikap hati-hati investor merespons pernyataan Bank Indonesia (BI) terkait komitmen menjaga stabilitas nilai tukar.
" Investor tetap berhati-hati, di tengah pernyataan Bank Indonesia bahwa mereka akan tetap berada di pasar untuk menstabilkan rupiah," ujar Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede.
BI Lakukan Intervensi Multi-Instrumen, Investor Global Positif terhadap Indonesia
Erwin G Hutapea dari Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia menyampaikan bahwa BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar untuk mendukung ketahanan ekonomi nasional.
Stabilitas nilai tukar rupiah dinilai tetap terjaga berkat kebijakan stabilisasi yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Upaya stabilisasi yang dijalankan BI mencakup:
- Intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika
- Intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot
- Transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
- Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder
- Selain itu, aliran modal asing yang terus masuk turut memperkuat rupiah.
Instrumen utama yang menarik aliran modal antara lain Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham, dengan nilai neto mencapai Rp11,11 triliun selama Januari 2026.
Dukungan dari investor asing ini juga didorong oleh persepsi positif terhadap Indonesia, yang tercermin dari rendahnya premi risiko Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun, yakni sekitar 72 basis poin (bps).
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







