
Pantau - Bebin Djuana, pengamat otomotif, memperingatkan bahwa pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia bisa mengalami stagnasi jika pemerintah tidak segera memperkenalkan skema insentif baru setelah berakhirnya berbagai stimulus fiskal pada akhir 2025.
Bebin menekankan bahwa tanpa adanya insentif yang jelas, target ambisius Net Zero Emission (NZE) 2060 bisa kehilangan momentum, terutama dalam mendorong adopsi kendaraan rendah emisi.
Saat ini, terdapat kekosongan regulasi setelah berakhirnya pembebasan bea masuk mobil listrik impor dan penghapusan PPN DTP 10 persen yang sebelumnya menjadi insentif pajak efektif untuk mendorong penjualan kendaraan listrik.
Bebin menyatakan bahwa meskipun pengurangan harga baterai dan teknologi yang lebih baik telah menurunkan harga kendaraan listrik, hilangnya insentif fiskal diprediksi akan menyebabkan harga kendaraan listrik melonjak, yang dapat mengurangi minat konsumen.
Bebin juga menekankan pentingnya dukungan terhadap kendaraan rendah emisi, mengingat sektor transportasi masih menjadi penyumbang utama emisi karbon dan kualitas BBM di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara.
Untuk mencapai target NZE 2060, Bebin mengusulkan adanya kebijakan baru sebagai pengganti insentif sebelumnya, yang mencakup memberikan ruang bagi kendaraan hybrid yang dapat menghemat BBM dan menekan emisi karbon.
- Penulis :
- Aditya Yohan







