Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah dan Antisipasi Keputusan The Fed

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah dan Antisipasi Keputusan The Fed
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan Senin (26/1), di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta menjelang keputusan suku bunga The Fed.

IHSG naik sebesar 24,32 poin atau 0,27 persen ke level 8.975,33.

Indeks LQ45 turut mencatatkan kenaikan sebesar 8,84 poin atau 1,01 persen ke posisi 882,43.

Sentimen Global dan Regional Pengaruhi Arah Pasar

Pelaku pasar global mencermati eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah setelah AS mengerahkan kekuatan militer tambahan.

Tiga pesawat militer AS dilaporkan dipindahkan dari Jerman ke Timur Tengah, termasuk ke Kuwait dan Qatar dalam dua hari terakhir berdasarkan data Flightradar24.

Presiden AS Donald Trump menyatakan, "Kapal-kapal Angkatan Laut AS sedang bergerak menuju Iran untuk berjaga-jaga."

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus (Nico) mengatakan, "Bursa regional Asia yang cenderung melemah terbebani oleh ketegangan geopolitik dan menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan ini."

Menurut Nico, kekhawatiran pasar bertambah setelah Trump mengancam, "AS akan mengenakan tarif 100 persen terhadap Kanada apabila Ottawa mengejar kesepakatan perdagangan dengan China."

Pelaku pasar juga bersikap waspada terhadap arah kebijakan suku bunga acuan AS yang akan diumumkan pekan ini.

Di sisi lain, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 5,1 persen pada 2026.

Proyeksi ini didorong oleh kepercayaan terhadap kebijakan fiskal pro-pertumbuhan pemerintah Indonesia.

IMF juga menyarankan agar Bank Indonesia lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi nilai tukar rupiah.

"Nilai tukar rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah tingginya ketidakpastian global," tulis IMF dalam laporannya.

Sektor Barang Baku Memimpin Penguatan, Energi Melemah

IHSG dibuka menguat dan tetap berada di zona hijau sepanjang sesi pertama hingga penutupan sesi kedua.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor mencatatkan penguatan, yakni:

  • Sektor barang baku naik 3,85 persen.
  • Sektor transportasi dan logistik menguat 1,71 persen.
  • Sektor barang konsumen primer naik 0,26 persen.
  • Sebaliknya, delapan sektor mengalami penurunan, dipimpin oleh:
  • Sektor energi turun 2,26 persen.
  • Sektor industri turun 2,19 persen.
  • Sektor properti melemah 2,08 persen.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain: JAST, MPIX, BBRM, GTRA, dan ELSA.

Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah: INET, MINA, KIOS, TRIN, dan GTSI.

Total frekuensi perdagangan saham hari ini mencapai 3.836.236 kali transaksi dengan volume 57,52 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp36,97 triliun.

Terdapat 267 saham yang naik, 428 saham turun, dan 110 saham stagnan.

Bursa saham regional Asia ditutup bervariasi.

Indeks Nikkei Jepang melemah 961,59 poin atau 1,79 persen ke 52.885,30.

Indeks Shanghai turun 3,55 poin atau 0,09 persen ke 4.132,60.

Indeks Hang Seng naik tipis 16,00 poin atau 0,06 persen ke 26.765,51.

Indeks Strait Times Singapura melemah 30,52 poin atau 0,62 persen ke 4.860,93.

Penulis :
Arian Mesa