
Pantau - Sebanyak 61 persen investor global menganggap sektor teknologi sebagai sektor paling menarik dalam tiga tahun ke depan, jauh mengungguli sektor lain seperti manajemen aset, ketenagalistrikan, dan perbankan.
Data ini berasal dari laporan PwC’s 2025 Global Investor Survey yang melibatkan 1.074 profesional investasi dari 26 negara dan teritori.
Angka ketertarikan terhadap sektor teknologi ini dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya, yakni manajemen aset dan kekayaan (25 persen), ketenagalistrikan dan utilitas (24 persen), serta perbankan dan pasar modal (19 persen).
AI Pacu Produktivitas dan Profit, Investor Siap Tambah Modal
Menurut Kazi Islam, Global Assurance Strategy and Growth Leader PwC US, pesatnya perkembangan teknologi mendorong investor untuk mengharapkan perusahaan dapat beradaptasi dengan cepat.
"Seiring pesatnya perkembangan teknologi, investor juga mengharapkan perusahaan tempat mereka berinvestasi untuk mampu mengikuti perkembangan, 92 persen mendorong peningkatan alokasi modal untuk transformasi teknologi," ungkap Kazi.
Dukungan investor terhadap transformasi teknologi diperkuat oleh hasil nyata dari penerapan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) selama satu tahun terakhir.
Penerapan AI disebut berhasil meningkatkan produktivitas sebesar 86 persen, profitabilitas 71 persen, dan pertumbuhan pendapatan sebesar 66 persen.
Sebanyak 78 persen investor menyatakan akan meningkatkan investasi secara moderat atau lebih besar pada perusahaan yang mengimplementasikan transformasi AI di seluruh lini bisnisnya.
Namun, hanya 37 persen investor menilai bahwa perusahaan telah memberikan informasi yang cukup mengenai kebijakan dan strategi AI mereka.
"Meskipun investor memahami bahwa imbal hasil dari AI membutuhkan modal awal, mereka tetap mengharapkan kedisiplinan melalui pengukuran yang relevan untuk pengambilan keputusan, tata kelola yang kredibel, serta bukti bahwa AI mampu membentuk ulang struktur biaya, produktivitas, dan pertumbuhan pendapatan secara aman dan berkelanjutan," jelas Kazi.
Fokus Investor: Ketahanan, Transparansi, dan Keberlanjutan
Survei juga menunjukkan bahwa investor menaruh perhatian besar pada risiko eksternal yang mengancam bisnis.
Sebanyak 55 persen menilai perusahaan memiliki paparan risiko tinggi hingga ekstrem terhadap serangan siber, dan 53 persen terhadap disrupsi teknologi.
Dalam situasi global yang tidak pasti, investor mendorong perusahaan untuk memperkuat keamanan siber, kepatuhan regulasi, ketahanan rantai pasok, dan mengadopsi model bisnis yang agile.
Eddy Rintis, Territory Senior Partner PwC Indonesia, menekankan bahwa ketahanan dan transparansi menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan investor.
"Investor mengharapkan perusahaan untuk memperkuat ketahanan bisnis sekaligus memberikan transparansi. Mereka berharap perusahaan memperkuat keamanan siber, ketahanan rantai pasok, serta kepatuhan regulasi serta mengadopsi model bisnis yang agile untuk membuka peluang pertumbuhan," ujar Eddy.
Selain itu, keberlanjutan juga menjadi sorotan utama.
Sebanyak 84 persen investor menyatakan bahwa perusahaan perlu mempertahankan atau meningkatkan investasi dalam adaptasi terhadap perubahan iklim.
Sementara itu, 61 persen menyatakan akan meningkatkan investasi pada perusahaan yang menggunakan data keberlanjutan untuk mendorong efisiensi dan kinerja.
"Pesan dari investor sangat jelas, transformasi teknologi tetap menjadi jalur utama untuk pertumbuhan, namun ketahanan dan transparansi berfungsi sebagai pagar pengaman. Investor mendukung perusahaan yang mampu mengembangkan inovasi secara bertanggung jawab, dengan tata kelola yang jelas, hasil yang terukur, serta rencana yang kredibel untuk mengubah teknologi menjadi nilai jangka panjang," tutup Eddy.
- Penulis :
- Aditya Yohan







