
Pantau - Pengamat ketenagakerjaan sekaligus Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar menilai akses dan perluasan pekerjaan formal sangat krusial bagi peningkatan dan keberlanjutan daya beli konsumsi rumah tangga masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Timboel Siregar saat dihubungi di Jakarta pada Senin.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan konsumsi harus dilihat dari kemampuan masyarakat, khususnya pekerja, dalam memiliki pekerjaan yang bersifat formal.
Menurut Timboel, pekerjaan formal memberikan kepastian upah, jaminan sosial, jam kerja, serta perlindungan bagi pekerja.
Timboel Siregar menyatakan bahwa “Bicara soal keberlanjutan konsumsi ini juga harus dilihat sebagai upah dari kemampuan para masyarakat, pekerja khususnya, memiliki pekerjaan yang bersifat formal sehingga mendapatkan kepastian upah, jaminan sosial, jam kerja dan sebagainya,”.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Jadi Penopang Ekonomi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto.
Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB tercatat sebesar 53,14 persen pada triwulan III 2025.
Dari sisi sumber pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama dengan kontribusi sebesar 2,54 persen.
Namun demikian, dibandingkan triwulan sebelumnya, konsumsi rumah tangga tercatat mengalami perlambatan secara tahunan maupun kumulatif.
Timboel Siregar menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga sangat bergantung pada pendapatan masyarakat.
Ia menilai perluasan pekerjaan formal dapat memberikan kepastian dan kualitas upah bagi masyarakat.
Tantangan Pekerjaan Informal dan Pengangguran
Timboel menilai pekerjaan informal tidak mampu menjamin keberlanjutan serta kualitas pendapatan pekerja.
Ia menjelaskan bahwa meskipun pembukaan lapangan kerja lebih banyak terjadi di sektor informal, sektor tersebut memiliki keterbatasan dalam menjamin kesejahteraan pekerja.
Timboel Siregar menyampaikan bahwa “Sementara, kalau pekerja informal itu tidak bisa untuk dijamin keberlanjutannya, keberlangsungannya, dan kualitas upahnya. Tapi pembukaan lapangan kerja informal lebih besar, memang faktanya juga pekerjaan yang lebih banyak itu 59 persen itu kan di sektor informal,”.
Oleh karena itu, Timboel menilai pemerintah perlu melakukan intervensi langsung dalam penciptaan lapangan kerja.
Intervensi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya beli, optimisme masyarakat, serta menekan tingkat pengangguran.
Mengutip data BPS, Timboel menyebut jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,28 juta orang.
Jumlah setengah menganggur tercatat sebanyak 11,67 juta orang.
Jika digabungkan, jumlah pencari kerja diperkirakan hampir mencapai 19 juta orang.
Timboel Siregar menyampaikan bahwa “Berdasarkan data BPS, jika angka pengangguran terbuka dan setengah menganggur ditambahkan, setidaknya para pencari kerja kita bisa mencapai hampir 19 juta orang. Dan bagi mereka, pendapatannya juga tidak jelas bahkan tidak punya pendapatan sama sekali,”.
Ia kembali menegaskan perlunya pembukaan lapangan kerja yang lebih besar dengan orientasi pada sektor formal.
Timboel menutup pernyataannya dengan mengatakan “Nah, ini yang memang kembali harus diupayakan pembukaan lebih besar lagi dengan orientasi pada sektor formal, sehingga bisa memastikan kualitas upah, jaminan sosial, pelindungan, jam kerja dan sebagainya,”.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








