Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Menaker Yassierli Dorong Lima Strategi Utama untuk Memperkuat Budaya K3 Nasional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menaker Yassierli Dorong Lima Strategi Utama untuk Memperkuat Budaya K3 Nasional
Foto: (Sumber: Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat mengunjungi PT Bukit Asam di Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (9/2/2026). ANTARA/HO-Kemnaker RI..)

Pantau -  Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mendorong penerapan lima strategi utama untuk memperkuat budaya keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 di dunia usaha dan industri nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli dalam keterangannya yang diterima di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Yassierli menjelaskan lima strategi utama yang perlu diterapkan, yakni edukasi, keterlibatan pekerja, perbaikan sistem dan teknologi keselamatan, penegakan aturan, serta evaluasi berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa "Melalui pendekatan ini, keselamatan dipandang sebagai hasil dari sistem yang dirancang dan dijalankan secara konsisten", ungkapnya.

Yassierli menambahkan bahwa "Kesalahan manusia bukan penyebab utama kecelakaan, tetapi menjadi tanda adanya kelemahan dalam sistem. Karena itu, perbaikan sistem harus dilakukan secara terus-menerus", ujarnya.

Menurut Yassierli, pendekatan K3 berbasis manusia menekankan pentingnya budaya pelaporan dan pembelajaran yang terbuka di lingkungan kerja.

Ia menyatakan bahwa menghilangkan budaya saling menyalahkan penting agar organisasi dapat belajar dari setiap insiden dan memperkuat sistem keselamatan kerja.

Menaker menyoroti masih terjadinya kecelakaan kerja yang menunjukkan bahwa K3 belum menjadi budaya di banyak tempat kerja.

Selama ini, keselamatan masih sering dimaknai sebatas kepatuhan terhadap aturan dan belum menjadi bagian dari cara berpikir serta bertindak sehari-hari.

Yassierli menekankan bahwa penguatan budaya K3 harus menempatkan manusia sebagai pusat perhatian dalam setiap sistem kerja.

Ia menyatakan bahwa perubahan hanya dapat terjadi jika seluruh insan kerja terlibat aktif dan sistem keselamatan dirancang untuk melindungi manusia, bukan sekadar mengawasi kesalahan.

Ia menegaskan bahwa "Keselamatan kerja tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan. K3 harus menjadi budaya kerja. Manusia harus dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan sebagai sumber masalah", tegasnya.

Menurut Yassierli, kecelakaan kerja umumnya tidak disebabkan oleh satu kesalahan individu, melainkan oleh lemahnya sistem kerja, prosedur, dan pengendalian risiko.

Ia menyebut budaya keselamatan yang belum kuat serta sistem pengamanan yang belum optimal membuat banyak tempat kerja masih rentan terhadap kecelakaan.

Penulis :
Ahmad Yusuf