
Pantau - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melibatkan investor dalam pengembangan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, guna mempercepat peningkatan produksi dan mendukung target swasembada garam nasional pada 2027.
Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita menyampaikan pengembangan kawasan industri garam membutuhkan dukungan berbagai pihak karena pemerintah tidak dapat membiayai seluruh kebutuhan secara mandiri.
Frista menyatakan "Pengembangan kawasan industri Rote itu kan tidak mungkin pemerintah semua. Kemampuan APBN kami paling hanya bisa di dua zona. Sisa delapan zonanya itu harus dilakukan oleh investor," dalam Gelar Wicara Bincang Bahari bertajuk Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri: Tantangan & Peluang Industri Nasional.
Keterbatasan APBN dan Kebutuhan Investasi
Pengembangan kawasan industri garam di Rote Ndao dirancang dalam beberapa zona produksi dengan target produktivitas mencapai 200 ton per hektare.
Kemampuan pembiayaan pemerintah melalui APBN hanya mencakup sebagian zona prioritas, sementara zona lainnya memerlukan investasi dari pihak swasta.
Keterlibatan investor dinilai penting untuk mempercepat pembangunan infrastruktur produksi, fasilitas pengolahan, serta penerapan teknologi guna meningkatkan kapasitas dan kualitas garam nasional.
Frista mengatakan "Saya juga pikir PT Garam juga tidak mungkin melakukan semuanya untuk memenuhi kebutuhan (konsumsi garam) 5 juta ton per tahun, butuh banyak (investor) dan PT Garam mungkin juga berat," ia mengungkapkan terkait kebutuhan produksi nasional.
Kebutuhan garam nasional yang besar, termasuk untuk sektor industri, menuntut peningkatan produksi secara signifikan karena kapasitas yang ada saat ini dinilai belum mencukupi apabila hanya mengandalkan satu badan usaha.
Potensi Rote dan Target Produksi Nasional
Rote dipilih sebagai sentra industri pergaraman nasional karena memiliki periode panas lebih panjang serta kualitas air laut yang mendukung produksi garam berkualitas tinggi dibanding sejumlah sentra lainnya.
Kawasan tersebut memiliki potensi pengembangan tambak seluas 10.000 hingga 13.000 hektare yang dirancang menjadi pusat produksi garam skala industri.
Pada tahap awal, pemerintah memulai pengembangan zona prioritas sebelum membuka peluang investasi untuk memperluas kapasitas produksi kawasan.
Modeling kawasan Rote akan mengintegrasikan teknologi produksi guna meningkatkan efisiensi serta menjaga standar kualitas industri.
Dengan pengembangan penuh, kawasan ini diproyeksikan menghasilkan ratusan ribu ton garam per tahun untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat rantai pasok nasional.
Frista menegaskan "Nah, ini penting kita menggandeng investor-investor lain terutama pihak-pihak swasta untuk sama-sama mewujudkan swasembada garam ini," sebagai penekanan pentingnya sinergi antara pemerintah, BUMN, pelaku usaha, dan investor swasta.
- Penulis :
- Shila Glorya







