
Pantau - Kementerian Koperasi melalui Deputi Bidang Pengawasan Koperasi Kemenkop Herbert Siagian menyatakan koperasi diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi nasional pada 2026 melalui strategi baru serta dukungan kebijakan pemerintah guna memperkuat daya saing pelaku usaha.
Pernyataan tersebut disampaikan Herbert dalam Forum Business & Legal Outlook 2026 yang digelar di Jakarta Selatan sebagai ruang dialog untuk menghadapi kondisi perekonomian global saat ini.
Herbert menjelaskan bahwa di tengah tekanan ekonomi global, pergeseran geopolitik, dan percepatan transformasi teknologi yang tidak menentu, pelaku usaha dituntut menata ulang strategi bisnis yang telah diimplementasikan.
Ia menyampaikan, "Untuk mengatasi banyaknya perubahan tersebut, para pelaku bisnis tidak bisa hanya terpaku oleh satu strategi. Kita harus bisa melakukan beberapa gaya untuk bisa bertahan di kondisi saat ini. Di tahun 2026 dan seterusnya, akan muncul pemain lama, yaitu koperasi,".
Herbert juga menegaskan, "Koperasi akan mempunyai strategi baru yang akan berpotensi menjadi game changer di perekonomian Indonesia dengan dukungan penuh dari pemerintah saat ini,".
Forum Bahas Arah Kebijakan dan Strategi Bisnis 2026
Forum Business & Legal Outlook 2026 diselenggarakan oleh ET-Asia bersama HIPMI Jaya, Legal Next, Bilad Elkomindo Multimedia, dan Delapan Capital di Jakarta Selatan.
Forum tersebut menghadirkan regulator, pimpinan perusahaan, perbankan, ekonom, serta mitra firma hukum untuk membahas arah kebijakan dan strategi bisnis tahun 2026.
Direktur Operasional ET-Asia Deasy Widiantie menyampaikan bahwa Business & Legal Outlook 2026 lahir dari kebutuhan menghadirkan ruang dialog yang lebih mendalam dan relevan bagi para pengambil keputusan.
Ia mengatakan, "Forum ini kami hadirkan bukan hanya sebagai diskusi, tetapi sebagai ruang refleksi dan pertukaran perspektif yang konstruktif,".
Deasy juga menyatakan, "Business and Legal Outlook 2026 dihadirkan sebagai ruang dialog strategis untuk membantu pelaku usaha membaca risiko, menangkap peluang, dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri,".
Isu Geopolitik, SDA, dan AI Jadi Sorotan
Forum tersebut menyoroti kondisi 2026 yang diperkirakan diwarnai tekanan global akibat dinamika geopolitik, ekonomi Amerika Serikat, volatilitas suku bunga dan komoditas, serta isu MSCI yang mempengaruhi arus modal di pasar modal Tech in Asia.
Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan turut hadir dan mengulas prospek sektor sumber daya alam dengan penekanan pada pentingnya menjaga keseimbangan antara akselerasi pertumbuhan dan komitmen terhadap keberlanjutan.
Dany menyampaikan, "Untuk bisa menjadi engine of growth yang terbaik bagi negara, maka BUMN tidak bisa bekerja sendiri. BUMN harus inklusif dan harus membuat strategi inklusifitas yang bagus,".
Komisaris Jasamarga Related Business sekaligus Ketua Bidang XII Investasi dan Kerja Sama Antar Daerah BPD HIPMI Jaya Samira Alatas menekankan pentingnya mencermati dinamika geopolitik dan kemampuan pelaku usaha dalam menavigasi ketidakpastian dengan strategi adaptif.
Founder & CEO Radian Syam & Syam Law Firm Radian Syam menilai pemerintah telah membangun sistem tata kelola yang kuat dalam meningkatkan perekonomian nasional.
Ia menyampaikan, "Hari ini kita dapat melihat komitmen pemerintah dalam membangun sistem tata kelola yang kuat. Jatuh bangunnya sebuah negara sangat bergantung pada bangsanya sendiri,".
Isu digital dan kesiapan menghadapi era kecerdasan buatan juga menjadi perhatian utama dengan pembahasan mengenai kesiapan regulasi serta kapasitas organisasi dalam beradaptasi terhadap perkembangan AI.
Managing Partner Legal Next Attorneys at Law Joddy Mulyasetya P. menyatakan, "Perkembangan teknologi, khususnya AI, tidak hanya membuka peluang baru, tetapi juga menuntut kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang lebih matang dari pelaku usaha,".
- Penulis :
- Leon Weldrick







