
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Senin sore ditutup melemah 248,32 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,37 akibat kekhawatiran investor terhadap potensi inflasi energi global setelah lonjakan tajam harga minyak mentah yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 25,47 poin atau 3,28 persen ke posisi 750,57.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Rarna Lim menyampaikan bahwa "IHSG melemah di tengah sentimen geopolitik dan potensi inflasi", ungkapnya.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah konflik di Timur Tengah menyebabkan penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Penutupan jalur tersebut membuat produsen minyak di Timur Tengah mengurangi produksi karena keterbatasan tempat penyimpanan setelah tidak dapat mengirimkan pasokan ke pelanggan.
Lonjakan harga minyak mentah pun terjadi tajam pada perdagangan hari ini.
Harga minyak jenis WTI naik 11,86 persen menjadi 101,68 dolar AS per barel.
Harga minyak Brent melonjak 12,77 persen menjadi 104,53 dolar AS per barel pada pukul 17.12 WIB.
Kenaikan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya inflasi global serta potensi perlambatan ekonomi dunia.
Para menteri keuangan negara G7 dijadwalkan membahas kemungkinan pelepasan cadangan darurat minyak secara bersama-sama untuk meredam lonjakan harga energi.
Langkah penarikan cadangan strategis minyak tersebut sebelumnya telah dilakukan lima kali dalam berbagai situasi krisis.
Beberapa di antaranya terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina, gangguan pasokan minyak di Libya, bencana badai Katrina, serta selama Perang Teluk pertama.
Tekanan Inflasi Global dan Data Ekonomi China
Dari kawasan Asia, inflasi China meningkat menjadi 1,3 persen secara tahunan pada Februari 2026 dari sebelumnya 0,2 persen pada Januari 2026.
Angka tersebut merupakan kenaikan tertinggi sejak Januari 2023 sekaligus berada di atas ekspektasi pasar yang sebesar 0,8 persen.
Kenaikan inflasi di China terutama dipicu oleh perayaan Tahun Baru Imlek pada pertengahan Februari 2026.
Investor selanjutnya menantikan rilis data ekspor dan impor Tiongkok untuk periode Januari hingga Februari 2026 sebagai indikator lanjutan kondisi ekonomi negara tersebut.
Seluruh Sektor Saham Melemah
Dari dalam negeri, indeks keyakinan konsumen tercatat turun menjadi 125,2 pada Februari 2026 dari level 127 pada Januari.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya prospek ekonomi serta turunnya ekspektasi pendapatan masyarakat dalam enam bulan ke depan.
Ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang juga mengalami pelemahan.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka langsung melemah dan bertahan di wilayah negatif sepanjang sesi pertama perdagangan.
Pada sesi kedua perdagangan saham, IHSG tetap berada di zona merah hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor saham mengalami pelemahan.
Sektor barang konsumen non primer mencatat penurunan terdalam sebesar 5,00 persen.
Sektor transportasi dan logistik turun 4,93 persen.
Sektor barang baku melemah 4,42 persen.
Saham yang mengalami penguatan terbesar antara lain RANC, SHID, OILS, BSIM, dan MKAP.
Saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain BULL, PGAS, GTSI, TRUE, dan BKSL.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.474.203 transaksi.
Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 46,80 miliar lembar saham.
Nilai total transaksi tercatat sebesar Rp23,88 triliun.
Sebanyak 68 saham mengalami kenaikan.
Sebanyak 708 saham mengalami penurunan.
Sebanyak 41 saham tidak mengalami perubahan harga.
Bursa saham regional Asia pada sore hari juga bergerak melemah.
Indeks Nikkei turun 2.892,10 poin atau 5,20 persen menjadi 56.728,69.
Indeks Shanghai turun 27,58 poin atau 0,67 persen menjadi 4.096,60.
Indeks Hang Seng turun 348,82 poin atau 1,35 persen menjadi 25.408,46.
Indeks Strait Times melemah 91,64 poin atau 1,89 persen menjadi 4.756,60.
- Penulis :
- Shila Glorya








