Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp16.920 per Dolar AS Akibat Penutupan Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp16.920 per Dolar AS Akibat Penutupan Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Uang pecahan seratus ribu rupiah di atas uang dolar AS, Cash Center Bank Mandiri, Jakarta. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ed/pd/aa.

Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 22 poin menjadi Rp16.920 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (25/3) di Jakarta, dipicu sentimen global akibat penutupan Selat Hormuz dan tingginya harga minyak dunia.

Pelemahan ini terjadi dari posisi sebelumnya Rp16.898 per dolar AS seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut kondisi pasar saat ini masih diliputi sentimen risk off yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.

“Sentimen umum masih risk off, harga minyak masih tinggi dan Selat Hormuz masih ditutup, dan investor masih belum sepenuhnya yakin dan terus berhati-hati memantau perkembangannya,” ungkapnya.

Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair global berdampak langsung pada pasar energi dan keuangan dunia.

Blokade ini dipicu oleh konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan.

Harga minyak dunia turut terdorong naik dengan minyak jenis WTI berada di level 88 dolar AS per barel dan Brent mencapai 98 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut memicu tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di tengah tekanan tersebut, muncul harapan deeskalasi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Trump menyebut langkah itu diambil setelah adanya dialog yang disebut “sangat baik dan produktif”.

Namun, pihak Iran membantah adanya negosiasi dengan Amerika Serikat dan menyebut informasi tersebut sebagai "berita palsu".

Ketidakpastian ini membuat investor tetap bersikap waspada terhadap perkembangan konflik dan dampaknya terhadap pasar global.

Penulis :
Aditya Yohan