
Pantau - Presiden Prabowo Subianto menyoroti adanya paradoks ekonomi Indonesia, yakni negara dengan kekayaan sumber daya alam dan pertumbuhan investasi tinggi namun masih menghadapi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan.
Dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Negara, Presiden menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan sekadar retorika politik, melainkan diagnosis nyata atas tantangan struktural pembangunan nasional.
Data ekonomi menunjukkan bahwa pada 2025 realisasi investasi Indonesia mencapai sekitar Rp1.931 triliun, tertinggi sepanjang sejarah, dengan meningkatnya kepercayaan investor domestik dan asing serta stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga.
Investasi Tinggi, Serapan Tenaga Kerja Terbatas
Di tengah capaian tersebut, Indonesia masih menghadapi sekitar 7,4 juta penganggur.
Investasi besar yang masuk hanya mampu menciptakan sekitar 2,7 juta lapangan kerja.
Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5–6 persen, namun angka kemiskinan justru meningkat dan jumlah kelas menengah mengalami penurunan.
Selain itu, kebocoran fiskal diperkirakan mencapai Rp2.500 triliun setiap tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Transisi Ekonomi dan Tantangan Bonus Demografi
Situasi tersebut dinilai sebagai fase transisi struktural ekonomi, bukan semata kegagalan kebijakan.
Indonesia saat ini tengah beralih dari ekonomi berbasis komoditas mentah dan tenaga kerja murah menuju ekonomi industri dan teknologi bernilai tambah tinggi.
Sebagian besar investasi mengalir ke sektor strategis seperti hilirisasi mineral, energi, industri pengolahan, dan infrastruktur yang bersifat padat modal.
Sektor-sektor tersebut penting bagi kedaulatan ekonomi jangka panjang, namun tidak menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar secara langsung.
Presiden menekankan bahwa Indonesia masih berada dalam fase bonus demografi yang harus menjadi kekuatan nasional, bukan beban sosial.
Investasi dinilai memiliki peran penting dalam mendorong industrialisasi, transfer teknologi, serta peningkatan produktivitas nasional.
Pemerintah berupaya menghubungkan investasi dengan penciptaan lapangan kerja melalui kebijakan pendukung tanpa menghambat arus investasi.
Pendekatan ini diarahkan untuk mengurai paradoks ekonomi agar tercipta sinergi antara pertumbuhan, investasi, dan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan








