HOME  ⁄  Ekonomi

Strategi Diversifikasi Ekspor Baja Didorong, Pemerintah Bidik Timur Tengah Kurangi Ketergantungan China

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Strategi Diversifikasi Ekspor Baja Didorong, Pemerintah Bidik Timur Tengah Kurangi Ketergantungan China
Foto: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita ditemui usai pelantikan pengurus The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) periode 2026–2030 di Jakarta, Jumat 10/4/2026 (sumber: ANTARA/AMuzdaffar Fauzan)

Pantau - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong diversifikasi ekspor baja Indonesia dengan menargetkan kawasan Timur Tengah dan negara industri berkembang guna mengurangi ketergantungan pada China serta memperkuat ketahanan industri nasional.

Langkah ini diambil karena ekspor baja Indonesia saat ini masih terkonsentrasi ke China sehingga dinilai berisiko apabila terjadi gangguan ekonomi di negara tersebut.

Menperin mengungkapkan, "Jadi, saya khawatir ada ketergantungan negara tujuan ekspor kita ke satu negara. Ketika itu terjadi, maka kalau kita mengasumsikan negara tersebut ada turmoil, ada masalah ekonomi, itu pasti akan berdampak pada industri baja kita," ungkapnya.

Ketergantungan Ekspor dan Target Pasar Baru

Tingginya permintaan dari China tetap dianggap positif bagi kinerja ekspor nasional meski pemerintah perlu mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi di negara tersebut.

Kawasan Timur Tengah dinilai memiliki peluang besar karena kebutuhan tinggi terhadap baja untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas industri seperti kilang.

Selain itu, negara dengan industri baja yang belum kuat juga menjadi target pasar potensial baru bagi Indonesia.

Menperin menyatakan, "Negara-negara yang kekuatan industri bajanya, atau di sekitar atau kawasan yang kekuatan industri bajanya masih belum sounds, masih belum terlalu kuat, itu juga bisa menjadi target market kita selanjutnya," ujarnya.

Pada tahun 2025, ekspor baja Indonesia mencapai sekitar 29,7 miliar dolar AS dengan lima pasar utama yakni China, Taiwan, India, Vietnam, dan Italia.

China menjadi tujuan terbesar dengan nilai lebih dari 17,9 miliar dolar AS, disusul Taiwan sekitar 1,8 miliar dolar AS, India 1,6 miliar dolar AS, Vietnam 864 juta dolar AS, dan Italia 777 juta dolar AS.

Tantangan Global dan Strategi Penguatan Industri

Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara dengan daya saing yang kuat di pasar global serta tren ekspor-impor besi dan baja yang terus menunjukkan kinerja positif dalam lima tahun terakhir.

Pada 2025, ekspor mencapai 23,97 juta ton dan impor 16,69 juta ton sehingga terjadi surplus sebesar 7,28 juta ton.

Namun, jika ferronikel tidak dihitung, neraca perdagangan justru mengalami defisit sekitar 3,7 juta ton dengan impor yang didominasi bahan baku sebesar 86 persen dari total volume.

Secara global, industri baja menghadapi kelebihan kapasitas produksi yang signifikan dengan proyeksi OECD pada 2027 mencapai 2.637 juta ton sementara kebutuhan hanya 1.916 juta ton atau surplus hampir 38 persen.

Kebijakan perdagangan internasional seperti tarif protektif Amerika Serikat dan mekanisme CBAM Uni Eropa turut mempengaruhi daya saing ekspor sekaligus mendorong transformasi menuju produksi baja yang lebih ramah lingkungan.

Tantangan dalam negeri meliputi masuknya baja prafabrikasi, praktik penghindaran kebijakan, serta perlunya perlindungan industri dari hulu hingga hilir.

Pemerintah menyiapkan strategi melalui penguatan instrumen trade remedies, penerapan Standar Nasional Indonesia secara konsisten, percepatan transformasi baja hijau, peningkatan investasi sektor hulu, serta pendalaman hilirisasi yang terintegrasi dengan sektor strategis seperti perkapalan, otomotif, dan infrastruktur.

Penulis :
Shila Glorya