
Pantau.com - Masa kampanye pemilihan umum di Bangladesh berakhir pada Jumat (28 Desember 2018), setelah terjadi kekerasan selama beberapa pekan, terutama terhadap para pegawai dan pejabat dari aliansi oposisi. Amerika Serikat dan beberapa negara lain mengeritik kekerasan tersebut.
Liga Awami pimpinan Perdana Menteri Sheikh Hasina berupaya tetap berkuasa untuk periode ketiga dalam pemilihan Minggu untuk melawan oposisi utama Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), yang memboikot pemungutan suara tahun 2014.
Liga Awami mempromosikan rekor pencapaian ekonominya selama dekade belakangan ini tetapi aliansi oposisi pimpinan BNP, banyak pemimpinnya telah dijebloskan ke dalam penjara, berjanji menaikkan upah dan membekukan harga bahan bakar.
"Pemerintah telah kehilangan dukungan moral, namun rakyat bersama kami. Mereka menginginkan perubahan" kata Sekretaris Jenderal BNP Mirza Fakhrul Islam Alamgir dalam jumpa pers Kamis malam, 27 Desember 2018, mendesak para pemilih untuk memulihkan demokrasi.
Baca juga: Bangladesh: Sikap Rasis Myanmar Jadi Alasan Rohingya Menolak Pulang
Persiapan BNP telah terganggu oleh pemenjaraan ketuanya pada Februari, mantan Perdana Menteri Khaleda Zia, atas dakwaan korupsi. Para pemimpin Liga Awami membantah menyelewengkan kekuasaan dan mengatakan mereka akan kembali berkuasa dengan meraih suara mayoritas.
Hasina mengatakan kepada wartawan, mereka harus meyakinkan kemenangan kekuatan pro-kebebasan, satu rujukan kepada kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan tahun 1971 yang dipimpin ayahnya, Sheikh Mujibur Rahman. Unit Intelijen majalah the Economist meramalkan partainya akan menang dalam pemilihan nanti.
BNP mengatakan pada Kamis, lebih 8.200 pemimpin oposisi dan pegiat dari koalisi sekitar 20 partai telah ditangkap sejak jadwal pemilihan diumumkan awal bulan lalu. Empat pegawai tewas dan lebih 12.300 cedera, katanya.
Liga Awami menyatakan sebaliknya bahwa BNP dan mitra-mitranya berada di belakang serangan-serangan yang menewaskan sedikitnya lima pegawainya selama tiga pekan belakangan ini, namun polisi menolak untuk mengonfirmasi angka-angka tersebut.
Baca juga: Pengungsi Rohingya Merasa Terancam dengan Kedatangan Tentara Bangladesh
Para komisaris pemilihan Bangladesh memperkirakan pemilihan akan bebas dan jujur, namun Mahbub Talukdar, salah seorang dari lima komisioner, mengatakan pemilihan belum berjalan seimbang.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Bangladesh Earl Miller, mengatakan semua pihak telah menjadi korban kekerasan, termasuk kaum wanita dan para calon minoritas.
"Namun, tampaknya para calon dari partai oposisi yang jadi korban akibat sebagian besar kekerasan," kata dia dalam pernyataan setelah bertemu dengan para pejabat Komisi Pemilihan pada Kamis.
Miller mengatakan semua calon dan pemilih harus dapat berperan serta tanpa intimidasi, mendapat gangguan, atau kekerasan, dan media independen harus diizinkan untuk meliput pemilihan itu.
- Penulis :
- Noor Pratiwi








