
Pantau - Pemerintah Kamboja mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberikan bantuan puluhan juta dolar untuk penanganan pengungsi, pembersihan ranjau, dan pemberantasan penipuan daring, sebagai bagian dari dukungan terhadap stabilitas di kawasan.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh Michael George DeSombre, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik, pada Sabtu, 10 Januari 2026.
DeSombre menyampaikan komitmen bantuan ini dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, di Istana Perdamaian (Peace Palace), Phnom Penh.
Bantuan AS dan Dukungan untuk Gencatan Senjata
Dalam siaran pers dari kantor juru bicara Perdana Menteri Kamboja, disebutkan bahwa AS akan memberikan bantuan sebesar:
15 juta dolar AS untuk mendukung keluarga-keluarga pengungsi di sepanjang perbatasan Kamboja–Thailand,
10 juta dolar AS untuk pembersihan ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak (UXO),
dan 10 juta dolar AS untuk membantu peningkatan kapasitas pemerintah Kamboja dalam memberantas penipuan daring (online fraud).
Kunjungan DeSombre ke Kamboja juga bertujuan memperkuat gencatan senjata yang disepakati antara Kamboja dan Thailand pada 27 Desember 2025, setelah tiga pekan konflik bersenjata yang menimbulkan korban jiwa di kedua negara.
Pemerintah Kamboja menyampaikan komitmen untuk menyelesaikan masalah perbatasan secara damai berdasarkan hukum internasional, perjanjian, konvensi, dan kesepakatan bilateral.
Harapan Kamboja untuk Stabilitas Jangka Panjang
Kamboja berharap dukungan AS dapat mendorong implementasi penuh gencatan senjata oleh kedua pihak, sehingga warga sipil di kawasan perbatasan bisa kembali ke rumah mereka dengan aman dan tanpa hambatan.
Pemerintah juga berharap Komisi Gabungan Demarkasi Batas Darat antara Kamboja dan Thailand bisa kembali bekerja melakukan survei dan penetapan batas sebagai dasar perdamaian jangka panjang.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah konflik susulan dan memperkuat stabilitas regional di kawasan Asia Tenggara.
- Penulis :
- Gerry Eka







