
Pantau - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyatakan bahwa Kelompok 77 dan China merupakan pilar yang kokoh bagi multilateralisme global dalam sambutannya pada upacara serah terima kepemimpinan kelompok tersebut pada Rabu.
Guterres menyampaikan bahwa dunia mengawali tahun ini dalam kondisi penuh tantangan global yang semakin kompleks.
Ia menyoroti konflik yang terus berkecamuk di berbagai wilayah sebagai salah satu ancaman utama stabilitas internasional.
Ketidaksetaraan global disebut semakin melebar dan memperburuk kondisi sosial ekonomi di banyak negara.
Beban utang negara-negara berkembang juga dinilai terus meningkat dan membatasi ruang pembangunan.
Kepercayaan antarnegara serta terhadap sistem internasional disebut semakin terkikis.
Guterres menekankan bahwa kekacauan iklim telah menghantam kehidupan dan mata pencaharian masyarakat di berbagai belahan dunia.
Perubahan iklim juga dinilai membalikkan pencapaian pembangunan yang telah dicapai dengan susah payah selama puluhan tahun.
Ia menyebut perkembangan teknologi melaju jauh lebih cepat dibanding kemampuan global untuk memastikan manfaatnya dirasakan secara merata.
Teknologi saat ini dinilai masih lebih banyak menguntungkan segelintir pihak dibanding seluruh negara.
Di tengah kondisi tersebut, kerja sama internasional justru berada di bawah tekanan meskipun tantangan global terus meningkat.
Guterres menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu menyelesaikan tantangan global secara sendiri.
Oleh karena itu, multilateralisme disebut semakin penting dalam tatanan dunia saat ini.
Ia menekankan perlunya memperkuat kerja sama internasional di dunia multipolar yang saling terhubung erat.
Dalam konteks tersebut, Kelompok 77 dan China dinilai memiliki peran yang tidak tergantikan.
Guterres menyerukan komunitas internasional untuk memperkuat komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Ia juga mendorong penanganan darurat iklim dengan kecepatan dan skala yang memadai serta menempatkan keadilan iklim sebagai inti kebijakan.
Era digital diharapkan dapat menjadi sarana inklusi global dan bukan pemicu ketidaksetaraan baru.
Penguatan peran dan fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menjadi salah satu seruan utama dalam sambutan tersebut.
Presiden Majelis Umum PBB Annalena Baerbock menyampaikan bahwa sistem multilateral dan PBB menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baerbock menyebut polarisasi politik dan tekanan keuangan berdampak langsung pada pembahasan di New York maupun operasi lapangan PBB.
Dampak tersebut secara langsung dirasakan oleh masyarakat yang seharusnya dilayani oleh PBB.
Ia menekankan perlunya keberanian bersama untuk membela Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar organisasi.
Baerbock menilai Kelompok 77 dan China memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga multilateralisme global.
Kelompok 77 dan China saat ini beranggotakan 134 negara dari Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Karibia.
Keanggotaan tersebut mewakili lebih dari 80 persen populasi dunia.
Kelompok ini mencakup negara kurang berkembang, negara kepulauan kecil berkembang, serta kekuatan ekonomi baru yang sedang tumbuh.
Dalam upacara tersebut, Uruguay secara resmi mengambil alih kepemimpinan Kelompok 77 dan China untuk tahun 2026.
Kepemimpinan itu diserahkan oleh Irak yang sebelumnya memimpin kelompok tersebut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








