Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Peluang Indonesia Menjadi Mediator Konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Peluang Indonesia Menjadi Mediator Konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Foto: (Sumber : Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) bersalaman dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan perdana (Inaugural Meeting) Board of Peace (BoP) yang digelar di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). ANTARA/HO- Sekretariat kabinet..)

Pantau - Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadi mediator dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas setelah Israel yang didukung Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari dan dibalas Iran dengan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Indonesia menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang bertikai di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto bahkan menyatakan kesediaannya melakukan perjalanan ke Teheran guna membuka ruang komunikasi dan mediasi.

Langkah tersebut dinilai sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang telah menjadi landasan utama diplomasi Indonesia sejak era Presiden Soekarno.

Prinsip tersebut memungkinkan Indonesia terlibat dalam upaya perdamaian dunia tanpa terjebak dalam persaingan blok kekuatan global.

Melalui pendekatan tersebut Indonesia dapat memainkan peran aktif dalam diplomasi internasional tanpa memihak salah satu kekuatan besar.

Rekam Jejak Diplomasi Multilateral

Peran Indonesia dalam diplomasi global juga tercermin dari keterlibatannya dalam berbagai forum multilateral internasional.

Indonesia aktif dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.

Selain itu Indonesia juga berperan dalam Organisasi Kerja Sama Islam.

Indonesia juga menjadi bagian penting dari Gerakan Non-Blok yang selama ini memperjuangkan kemandirian politik negara-negara berkembang.

Melalui forum-forum tersebut Indonesia secara konsisten menyuarakan kepentingan negara-negara Selatan atau Global South.

Posisi Indonesia juga dinilai unik dalam hubungan internasional.

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus dikenal sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Kondisi tersebut membuat Indonesia dipercaya oleh negara-negara dunia Islam.

Di sisi lain Indonesia tetap memiliki hubungan komunikasi yang baik dengan negara-negara Barat.

Peluang Mediasi dan Tantangan Diplomasi

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai peluang Indonesia menjadi mediator cukup realistis.

Ia mengatakan pihak-pihak yang bertikai membutuhkan jalan keluar yang terhormat dalam konflik tersebut.

"Menurutnya pihak-pihak yang bertikai membutuhkan jalan keluar yang terhormat."

Ia menambahkan jalan keluar tersebut dikenal sebagai exit strategy yang dapat menjaga martabat masing-masing pihak.

Reza juga menilai peluang Indonesia cukup besar karena ketokohan Presiden Prabowo Subianto dikenal luas di dunia internasional.

Meskipun demikian proses menuju perundingan damai diperkirakan tidak akan mudah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa negaranya tidak akan menandatangani perjanjian apa pun dengan Iran.

Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan menerima apa pun selain penyerahan tanpa syarat dari Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak tuntutan tersebut.

"Ia menegaskan bahwa Iran akan terus mempertahankan diri dari tekanan dan serangan pihak lawan."

Situasi tersebut menunjukkan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi ujian bagi konsistensi politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

Penulis :
Aditya Yohan