Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Kembali Ancam Iran Meski Tidak Ada Ancaman Langsung Nuklir, Intelijen AS dan Israel Meragukan Urgensi Serangan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Kembali Ancam Iran Meski Tidak Ada Ancaman Langsung Nuklir, Intelijen AS dan Israel Meragukan Urgensi Serangan
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (. ANTARA/Anadolu/py/am.).)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman militer terhadap Iran, meski laporan intelijen dari AS dan Israel menunjukkan tidak ada ancaman langsung dari program nuklir Iran.

Tidak Ada Bukti Ancaman Nuklir, Tapi Ketegangan Meningkat

Laporan khusus The New York Times mengungkapkan bahwa hingga enam bulan pasca serangan AS pada Juni tahun lalu, tidak ditemukan bukti signifikan bahwa Iran melanjutkan pengayaan uranium tingkat tinggi atau memproduksi rudal baru.

Temuan ini memunculkan pertanyaan di kalangan pengamat dan pejabat mengenai dasar dan waktu dikeluarkannya ancaman baru oleh Presiden Trump.

Namun, pada Juni 2025, Trump sudah memperingatkan bahwa jika Iran tidak "berdamai", maka serangan mendatang "akan semakin parah dan semakin mudah."

Ancaman serupa kembali diulang Trump pekan ini, saat ia mendorong pemerintah Teheran untuk kembali ke meja perundingan.

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa sikap Presiden tidak berubah.

"Negara pendukung terorisme nomor wahid sedunia tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir," ungkapnya.

Pengerahan Militer dan Ketidakpastian Politik Iran

Departemen Pertahanan AS memperkuat tekanan dengan pengerahan besar-besaran kekuatan militer ke Timur Tengah, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, dan puluhan ribu personel.

Meski demikian, sejumlah pejabat senior AS secara diam-diam mengakui bahwa eskalasi konflik masih belum bisa diprediksi secara pasti.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam rapat dengar pendapat dengan Senat pada Rabu, 28 Januari, menyoroti ketidakpastian masa depan politik Iran.

"Itu adalah pertanyaan terbuka," ujarnya, sambil menjelaskan bahwa kekuasaan di Iran terbagi antara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Laporan intelijen menyebutkan cadangan uranium Iran yang terdampak serangan masih terkubur dan belum dapat diakses, sehingga pemulihan produksi senjata diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Namun demikian, Iran diketahui memperdalam kegiatan di situs nuklir di dekat Natanz dan Isfahan.

Kritik Internal dari Kongres AS

Langkah Trump menuai kritik dari sejumlah legislator, terutama dari Partai Demokrat.

Anggota DPR AS dari Colorado, Jason Crow, menyatakan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukanlah unjuk kekuatan, melainkan "kesepakatan yang permanen dan dapat diverifikasi untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir."

Penulis :
Ahmad Yusuf