
Pantau - Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq meminta pemerintah melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di kawasan Timur Tengah mengambil langkah darurat untuk melindungi ribuan jemaah umrah asal Indonesia menyusul eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Permintaan itu disampaikan setelah serangan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran yang memicu penutupan wilayah udara di sekitar zona konflik dan menyebabkan sejumlah jemaah tertahan di berbagai bandara transit.
Ia menegaskan, “Keselamatan dan perlindungan WNI harus menjadi prioritas utama. Negara wajib hadir memastikan mereka dalam kondisi aman, mendapatkan logistik yang cukup, serta kepastian informasi,”.
Berdasarkan laporan melalui Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), sekitar 58.873 peserta umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.
Ia meminta koordinasi lintas sektoral antara Kementerian Luar Negeri, Kementerian Haji dan Umrah, serta Kementerian Perhubungan untuk menyusun skema mitigasi konkret seperti pengalihan rute penerbangan dan penyediaan akomodasi sementara bagi jemaah terdampak.
Ia menyatakan, “Kami meminta pemerintah melakukan langkah mitigasi cepat. Mulai dari pendataan jemaah terdampak, penyediaan akomodasi hingga skema pemulangan yang aman jika situasi memungkinkan. Jangan sampai jemaah dibiarkan tanpa kepastian di bandara,”.
Imbauan Tenang dan Pusat Informasi Satu Pintu
Maman juga menekankan perlunya pusat informasi resmi satu pintu guna mencegah kepanikan keluarga jemaah di Indonesia.
Ia mengingatkan, “Pemerintah harus menjadi rujukan utama informasi dalam situasi krisis ini. Jangan sampai keluarga jemaah mendapatkan informasi dari sumber yang tidak valid,”.
Ia mengimbau penyelenggara ibadah umrah aktif berkoordinasi dengan KBRI untuk memastikan pendampingan terhadap jemaah serta mengajak jemaah tetap tenang dan mengikuti instruksi otoritas setempat maupun perwakilan RI.
Ia mengatakan, “Kami berharap jemaah umrah tetap tenang, dan memprioritaskan keselamatan diri,”.
Serangan Israel terhadap Iran terjadi pada 28 Februari 2026 yang disusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai dimulainya operasi tempur besar-besaran di Iran.
Salah satu serangan menghantam Teheran dan dekat dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebelum Iran meluncurkan serangan roket balasan ke Israel serta sejumlah target di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan Presiden Prabowo Subianto siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif.
Pada 1 Maret 2026, pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Ali Khamenei serta menetapkan masa berkabung 40 hari dan libur kerja selama sepekan.
- Penulis :
- Gerry Eka







