
Pantau - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan akan mengurangi jumlah penerbangan evakuasi bagi warga negara Amerika dari kawasan Timur Tengah karena permintaan evakuasi yang relatif rendah meskipun konflik regional meningkat.
Keputusan tersebut disampaikan oleh Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Dylan Johnson yang menjelaskan bahwa kondisi penerbangan komersial di kawasan tersebut kini semakin membaik.
Ia mengatakan, "Meskipun ketersediaan penerbangan komersial di seluruh wilayah terus membaik, penerbangan sewaan dan operasi transportasi darat Deplu AS akan dikurangi karena jumlah kursi yang tersedia pada opsi sewa kami jauh lebih besar daripada permintaan dari warga Amerika di wilayah tersebut".
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Rabu 11 Maret 2026 telah menghubungi hampir 9.000 warga negara Amerika yang berada di Uni Emirat Arab untuk menawarkan penerbangan sewaan yang disediakan pemerintah.
Namun penerbangan evakuasi tersebut tetap berangkat dengan sejumlah kursi kosong karena tidak banyak warga Amerika yang memanfaatkan fasilitas tersebut.
Johnson menjelaskan situasi tersebut dengan mengatakan, "Terlepas dari upaya tersebut, penerbangan-penerbangan itu berangkat dari UEA dengan kursi yang masih tersedia karena kurangnya permintaan".
Situasi evakuasi ini berkaitan dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pada 28 Februari 2026 Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban sipil.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat dan Israel pada awalnya menyatakan operasi militer tersebut dilakukan untuk menghadapi ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran.
Kedua negara tersebut kemudian menjelaskan bahwa operasi militer itu juga bertujuan untuk mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Dalam hari pertama operasi militer tersebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas.
Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah kematian pemimpin tertingginya tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin menilai pembunuhan terhadap Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Ia menggambarkan peristiwa tersebut sebagai tindakan yang sinis terhadap prinsip hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Rusia menyerukan agar dilakukan deeskalasi konflik serta penghentian permusuhan secepat mungkin di kawasan Timur Tengah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








