
Pantau - Negara-negara anggota Badan Energi Internasional (International Energy Agency atau IEA) secara bulat menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat untuk menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan keputusan tersebut merupakan langkah kolektif terbesar sepanjang sejarah organisasi itu dalam merespons gejolak pasar energi.
Ia mengatakan, "Ke-32 negara anggota secara bulat menyetujui langkah penyediaan 400 juta barel minyak ke pasar dari cadangan darurat mereka."
Birol menjelaskan pelepasan cadangan minyak tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi nasional masing-masing negara anggota.
Ia menambahkan bahwa sekretariat IEA akan menyampaikan rincian implementasi langkah kolektif tersebut dalam waktu mendatang.
IEA mencatat negara-negara anggota memiliki cadangan darurat lebih dari 1,2 miliar barel minyak dengan tambahan sekitar 600 juta barel stok industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.
Badan tersebut juga mengungkapkan konflik di Timur Tengah telah mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Volume ekspor minyak mentah dan produk sulingan saat ini tercatat turun hingga di bawah 10 persen dibandingkan tingkat sebelum konflik.
Langkah pelepasan cadangan darurat ini dilakukan menjelang pertemuan daring para pemimpin Kelompok Tujuh (Group of Seven atau G7) yang dijadwalkan membahas dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Para menteri energi G7 sebelumnya telah menggelar pertemuan melalui konferensi video di bawah kepemimpinan Prancis untuk membahas volatilitas harga minyak yang meningkat tajam.
Pada 9 Maret 2026 harga minyak mentah Brent sebagai tolok ukur internasional sempat melonjak hingga sekitar 119 dolar Amerika Serikat per barel yang menjadi level tertinggi sejak pertengahan 2022.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








