Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Menlu Italia Tegaskan Sanksi Minyak Rusia Harus Dipertahankan di Tengah Perbedaan Pandangan Pemerintah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menlu Italia Tegaskan Sanksi Minyak Rusia Harus Dipertahankan di Tengah Perbedaan Pandangan Pemerintah
Foto: (Sumber : Arsip - Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani. /ANTARA/Anadolu/py)

Pantau - Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Italia Antonio Tajani menegaskan bahwa sanksi terhadap minyak Rusia harus tetap dipertahankan di tengah perbedaan pandangan dengan Wakil Perdana Menteri lainnya Matteo Salvini.

Pernyataan tersebut muncul setelah Salvini yang juga menjabat sebagai Menteri Infrastruktur dan Transportasi meminta agar pembatasan terhadap minyak Rusia dilonggarkan.

Pada Sabtu Salvini menyarankan Italia dan Eropa mempertimbangkan pendekatan yang lebih praktis dengan mencontoh langkah Amerika Serikat.

Ia menyebut Italia dan Eropa sebaiknya mempertimbangkan "solusi pragmatis" seperti yang diambil oleh Amerika Serikat sebagaimana dilaporkan surat kabar La Repubblica.

Menanggapi hal itu Antonio Tajani menegaskan pandangan Salvini merupakan pendapat pribadi dan bukan sikap resmi pemerintah secara keseluruhan.

"Sanksi terhadap Rusia harus tetap dipertahankan," kata Tajani.

Perbedaan Sikap di Dalam Koalisi Pemerintah

Sejumlah surat kabar Italia pada Minggu 15 Maret 2026 menggambarkan pertukaran pernyataan antara Tajani dan Salvini sebagai bentuk perselisihan di dalam pemerintahan.

Beberapa media bahkan menilai perbedaan pendapat tersebut menunjukkan adanya perpecahan dalam koalisi pemerintah.

Antonio Tajani memimpin partai Forza Italia.

Sementara Matteo Salvini memimpin partai League.

Kedua partai tersebut bersama Brothers of Italy yang dipimpin Perdana Menteri Giorgia Meloni membentuk koalisi pemerintahan Italia saat ini.

Perdebatan Sanksi di Tengah Situasi Global

Sebelumnya Salvini mengusulkan agar Eropa mengikuti langkah Amerika Serikat dengan mencabut sebagian sanksi terhadap minyak Rusia di tengah konflik di Timur Tengah.

Pada 11 Maret Salvini bahkan menyebut pembatasan terhadap minyak Rusia sebagai "kebijakan bodoh" ketika "jalur laut dan selat ditutup."

Di sisi lain otoritas Amerika Serikat sedang berupaya menurunkan harga minyak yang naik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Washington sebelumnya memberikan pengecualian dari sanksi bagi pembelian minyak Rusia oleh India yang dimuat ke kapal tanker sebelum 5 Maret.

Kebijakan tersebut kemudian diperluas sehingga mencakup seluruh minyak mentah dan produk minyak Rusia yang dimuat ke kapal sejak 12 Maret.

Dengan perluasan kebijakan itu transaksi yang melibatkan komoditas minyak Rusia tersebut tidak lagi berada di bawah pembatasan dari Washington.

Penulis :
Ahmad Yusuf