Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Pakistan Menawarkan Diri Jadi Tuan Rumah Pembicaraan AS-Iran untuk Hentikan Konflik Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pakistan Menawarkan Diri Jadi Tuan Rumah Pembicaraan AS-Iran untuk Hentikan Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber : Arsip - Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. /ANTARA/Anadolu/py)

Pantau - Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan negaranya siap menjadi tuan rumah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran guna mencapai penyelesaian komprehensif konflik yang memanas di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Sharif pada Selasa (24/3) di Islamabad di tengah meningkatnya eskalasi konflik akibat serangan udara dan balasan militer antara pihak-pihak terkait.

"Pakistan menyambut dan sepenuhnya mendukung upaya dialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah demi perdamaian dan stabilitas di kawasan dan sekitarnya," ujarnya.

Ia menegaskan kesiapan Pakistan untuk memfasilitasi dialog jika kedua negara menyetujui inisiatif tersebut.

“Dengan persetujuan AS dan Iran, Pakistan siap dan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah guna memfasilitasi pembicaraan yang bermakna dan konklusif untuk penyelesaian komprehensif konflik yang sedang berlangsung,” ungkapnya.

Langkah ini muncul setelah komunikasi antara Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir dan Presiden AS Donald Trump terkait situasi konflik Iran.

Sumber di Pakistan menyebut delegasi Amerika Serikat dijadwalkan tiba dalam satu hingga dua hari untuk menjajaki kemungkinan pembicaraan damai.

Namun demikian, pihak Iran dilaporkan belum siap untuk terlibat langsung karena faktor ketidakpercayaan terhadap Washington.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan komitmennya terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

“Diplomasi dan negosiasi sering kali menuntut agar hal-hal tertentu dijalankan dengan penuh kerahasiaan,” ujar juru bicara Tahir Andrabi.

Situasi kawasan tetap tegang setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran sejak 28 Februari 2026.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang dan memicu balasan Iran berupa serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel dan negara-negara Teluk.

Konflik ini juga berdampak pada infrastruktur, pasar global, serta penerbangan internasional.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan penghentian sementara serangan selama lima hari dengan alasan adanya pembicaraan yang disebut “sangat baik dan produktif”.

Namun, Iran membantah adanya negosiasi tersebut dan menyebutnya sebagai "berita bohong", meski mengakui menerima pesan dari negara-negara sahabat terkait permintaan dialog dari pihak Amerika Serikat.

Penulis :
Aditya Yohan