Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Hukum

Pria AS Retas 570 Akun Snapchat Perempuan dengan Menyamar Jadi Petugas Resmi, Hadapi Dakwaan Berat

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pria AS Retas 570 Akun Snapchat Perempuan dengan Menyamar Jadi Petugas Resmi, Hadapi Dakwaan Berat
Foto: (Sumber: Ilustrasi aplikasi Snapchat untuk watchOS. (ANTARA/Snapchat).)

Pantau - Seorang pria asal Illinois, Amerika Serikat, didakwa karena meretas hampir 600 akun Snapchat milik perempuan dengan cara menyamar sebagai petugas resmi platform tersebut dan menggunakan tipu daya untuk mencuri informasi pribadi.

Modus Tipu Daya dan Peretasan Massal

Kyle Svara (26) mengaku sebagai petugas resmi Snapchat untuk mendapatkan kepercayaan para korban.

Ia mengirim pesan ke lebih dari 4.500 orang antara Mei 2020 hingga Februari 2021, meminta kode masuk akun dengan dalih verifikasi keamanan.

Dengan metode ini, Svara berhasil meretas sekitar 570 akun Snapchat perempuan.

Setelah berhasil mengakses akun, ia mencuri foto-foto pribadi para korban, beberapa di antaranya dibagikan atau dijual secara daring.

Pihak berwenang menyatakan bahwa aksi Svara bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga ia menawarkan jasa peretasan tersebut secara daring, termasuk di platform Reddit.

Salah satu kliennya adalah Steve Waithe, mantan pelatih di Northeastern University, yang telah dipenjara pada tahun 2024 atas kasus pelecehan siber dan pemerasan seksual terhadap lebih dari 100 perempuan.

Kyle Svara juga diketahui menargetkan perempuan di wilayah Plainfield, Illinois, dan mahasiswi Colby College di Maine.

Pejabat menegaskan bahwa tindakannya mencerminkan perencanaan yang jelas untuk mengeksploitasi perempuan dan mengambil keuntungan dari gambar-gambar pribadi mereka.

Dakwaan Berat dan Risiko Keamanan Siber

Kasus ini disebut sebagai salah satu peretasan akun Snapchat terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan pola kebohongan dan penyalahgunaan kepercayaan.

Svara kini menghadapi sejumlah dakwaan, termasuk pencurian identitas, penipuan elektronik (wire fraud), penipuan komputer, dan klaim palsu terkait pornografi anak.

Ia dijadwalkan hadir di pengadilan federal Boston pada 4 Februari.

Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara jangka panjang.

Pencurian identitas memiliki hukuman minimal dua tahun penjara, sementara penipuan elektronik dapat dihukum hingga 20 tahun.

Penipuan komputer dan klaim palsu juga dapat menambah hukuman antara lima hingga delapan tahun penjara.

Pejabat menekankan bahwa kasus ini menjadi bukti nyata risiko peretasan dan penipuan daring yang makin marak.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi, termasuk kode verifikasi akun.

Kasus ini juga menjadi peringatan tegas bagi siapa pun yang mencoba mencuri atau menyebarkan gambar pribadi bahwa hukum akan bertindak tegas.

Para korban serta kelompok pemerhati privasi menyatakan bahwa insiden ini menunjukkan pentingnya perlindungan data pribadi dan regulasi ketat untuk mencegah kejahatan siber di masa depan.

Penulis :
Gerry Eka