Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Psikolog Ingatkan Orang Tua Siapkan Mental Anak Jelang Masuk Sekolah Usai Liburan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Psikolog Ingatkan Orang Tua Siapkan Mental Anak Jelang Masuk Sekolah Usai Liburan
Foto: (Sumber: Arsip Foto - Murid-murid bersalaman dengan guru di SD Negeri 4 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/4/2025). ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN.)

Pantau - Menjelang berakhirnya masa liburan, psikolog klinis Devi Yanti menekankan pentingnya orang tua membantu menyiapkan mental anak sebelum kembali ke sekolah.

Devi Yanti yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Aceh dan menjabat sebagai Bendahara HIMPSI Wilayah Aceh, menyampaikan bahwa transisi dari masa liburan ke rutinitas sekolah dapat memicu rasa malas, cemas, atau enggan pada anak.

"Orang tua perlu memperhatikan kondisi emosi anak, seperti adanya rasa malas, cemas, atau enggan kembali ke sekolah," ungkapnya.

Komunikasi, Rutinitas, dan Aktivitas Positif Jadi Kunci

Devi menyarankan agar orang tua membuka komunikasi dengan anak dan mendengarkan kekhawatiran serta harapan mereka sebelum kembali ke sekolah.

Orang tua juga dapat memberi gambaran positif tentang sekolah, seperti pelajaran yang disukai atau kesempatan bertemu kembali dengan teman-teman.

Beberapa hari sebelum masuk sekolah, penting bagi orang tua untuk membantu anak menyesuaikan kembali pola tidur dan makan yang kemungkinan berubah selama liburan.

Selain itu, anak sebaiknya dilibatkan dalam mempersiapkan perlengkapan sekolah, seragam, dan menyusun jadwal harian agar merasa lebih siap.

"Konsistensi rutinitas disertai dukungan emosional dan suasana rumah yang kondusif akan membantu anak kembali beradaptasi dengan lebih nyaman," ujarnya.

Batasi Gawai dan Perbanyak Aktivitas Bersama

Devi juga menekankan pentingnya menetapkan aturan yang jelas dan konsisten mengenai durasi serta waktu penggunaan gawai menjelang akhir liburan.

Sebagai alternatif, orang tua disarankan mengisi waktu dengan aktivitas menyenangkan bersama anak seperti membuat jadwal harian, membaca buku, menceritakan pengalaman sekolah, memasak, atau berolahraga bersama.

Aktivitas-aktivitas ini diyakini tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada gawai, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar dan memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

Penulis :
Gerry Eka