Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Ramadhan dan Prapaskah 2026 Jadi Momentum Perkuat Kerukunan dan Kesadaran Ekologis

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Ramadhan dan Prapaskah 2026 Jadi Momentum Perkuat Kerukunan dan Kesadaran Ekologis
Foto: (Sumber: Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kiri) mencium Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus usai melakukan foto bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Dalam kunjungannya Paus Fransiskus melihat langsung terowongan silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral serta menandatangani Deklarasi Bersama Istiqlal 2024: Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama untuk Kemanusiaan. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.)

Pantau - Pertemuan bulan Ramadhan dan masa Prapaskah pada Februari 2026 dinilai menjadi momentum memperkuat kerukunan antarumat beragama sekaligus membangun kesadaran ekologis di tengah tantangan krisis lingkungan.

Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan dimulai pada 18 atau 19 Februari 2026, bertepatan dengan Rabu Abu 18 Februari 2026 yang menandai awal masa Prapaskah bagi umat Katolik.

Momentum ini menghadirkan situasi di mana umat Islam menjalani puasa dan umat Katolik menjalani pantang dalam waktu yang hampir bersamaan di berbagai ruang sosial seperti sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, siswa Muslim menjalankan ibadah puasa di sekolah yang juga memiliki siswa Katolik berpantang, sementara keluarga Katolik turut menghormati suasana Ramadhan di lingkungan mayoritas Muslim.

Pertemuan dua masa puasa tersebut dinilai melampaui makna toleransi pasif dan membuka ruang empati yang lebih dalam antarkelompok.

Simbol dialog lintas iman sebelumnya juga tercermin dalam kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal serta penandatanganan Deklarasi Istiqlal 2024 yang menegaskan komitmen kerja sama lintas agama.

Puasa dan pantang dipandang bukan hanya sebagai praktik spiritual individual, tetapi juga sebagai latihan pengendalian diri dan kesadaran atas konsumsi.

Di tengah isu krisis iklim, banjir, kekeringan, dan pemborosan sumber daya, nilai pengendalian diri dinilai relevan untuk mendorong gaya hidup lebih sederhana dan berkelanjutan.

Dalam ajaran Katolik, ensiklik Laudato Si' menekankan pentingnya menjaga Bumi sebagai rumah bersama, sementara dalam Islam manusia dipahami sebagai khalifah yang bertanggung jawab merawat keseimbangan alam.

Kedua pandangan tersebut bertemu pada prinsip menjaga lingkungan dan menghindari eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya.

Momentum Ramadhan dan Prapaskah 2026 juga dapat diwujudkan melalui kegiatan konkret seperti diskusi lintas iman di sekolah, pengurangan sampah makanan, serta kampanye hemat air dan energi.

Di tingkat keluarga, praktik memasak secukupnya saat berbuka dan berbagi dengan kelompok rentan menjadi bagian dari implementasi nilai kesederhanaan.

Di masyarakat, kegiatan kerja bakti lingkungan, penanaman pohon, hingga dapur umum bagi warga terdampak bencana dapat memperkuat solidaritas sosial.

Pertemuan dua masa puasa ini dinilai menjadi pengingat bahwa praktik keagamaan tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi juga dapat mendorong perubahan gaya hidup yang lebih peduli terhadap sesama dan lingkungan.

Penulis :
Gerry Eka