
Pantau - Stephanie Riady, anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemendikdasmen), menyatakan bahwa sistem pendidikan sains di Indonesia perlu diubah secara fundamental agar lebih relevan dengan kehidupan siswa.
Menurutnya, sains seharusnya tidak hanya dipahami sebagai kumpulan rumus, tetapi sebagai cara berpikir yang mencakup kemampuan melihat persoalan, merumuskan solusi, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Sistem Lama Dinilai Tak Efektif
Saat ini, pembelajaran sains dan matematika di Indonesia masih menggunakan pendekatan lama seperti hafalan rumus, ujian pilihan ganda, dan minimnya praktik di kelas.
Stephanie menegaskan bahwa pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
“Sains sejatinya adalah cara berpikir, yakni bagaimana melihat persoalan, merumuskan solusi, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dunia saat ini membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Namun banyak siswa Indonesia merasa asing dengan pelajaran STEM karena pendekatan yang digunakan belum membumi dalam keseharian mereka.
Padahal, bidang STEM diyakini dapat membentuk pola pikir logis dan kreatif yang sangat penting di era kecerdasan buatan.
Belajar dari Negara Lain
Stephanie mencontohkan Korea Selatan dan Finlandia sebagai negara yang berhasil bertransformasi melalui investasi jangka panjang dalam pendidikan STEM.
Korea Selatan mulai memprioritaskan STEM sejak 1960-an dan kini menjadi ekonomi berbasis teknologi tinggi.
Sementara Finlandia dikenal memiliki sistem pendidikan inovatif yang menekankan kreativitas dan pembelajaran lintas disiplin.
Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat 71 dari 80 negara dalam literasi sains.
Fakta ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia belum sepenuhnya diajarkan cara berpikir ilmiah meskipun telah menjalani pendidikan formal.
Laporan Fixing the Foundation dari Bank Dunia juga mengungkapkan bahwa pelatihan guru di negara-negara berpenghasilan menengah, termasuk Indonesia, belum efektif dalam hal penguasaan konten dan metodologi pengajaran STEM.
“Vietnam bisa menjadi contoh inspiratif. Mereka mereformasi kurikulum sejak 2010 dengan pendekatan berbasis proyek. Hasilnya, performa siswa mereka kini sejajar dengan negara-negara maju. Malaysia pun terus mendorong partisipasi siswa di jalur STEM melalui pelatihan guru, insentif sekolah, dan kemitraan dengan industri,” jelas Stephanie.
Potensi Inovasi di Dalam Negeri
Stephanie menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan sains dan teknologi.
Ia menyebut beberapa inisiatif yang mencerminkan tumbuhnya ekosistem inovasi seperti pelatihan robotik di Yogyakarta, kompetisi inovasi di Jakarta, serta pengembangan alat berbasis IoT oleh mahasiswa di Surabaya.
Menurutnya, potensi tersebut harus diperkuat melalui sistem pendidikan yang mendukung serta kebijakan yang tepat.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, guru, pemerintah, dan sektor swasta dalam memperluas dan mengintegrasikan berbagai inisiatif inovatif ke dalam sistem pendidikan nasional.
- Penulis :
- Arian Mesa








