Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Saraf Terjepit Meningkat pada Remaja Akibat Duduk Lama, Operasi Minimal Invasif Jadi Solusi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Saraf Terjepit Meningkat pada Remaja Akibat Duduk Lama, Operasi Minimal Invasif Jadi Solusi
Foto: (Sumber: Spesialis orthopedi tulang belakang Eka Hospital BSD Tangerang dr. Asrafi Rizki Gatam (kanan) saat menjelaskan mengenai area saraf tulang belakang, leher, atau pergelangan tangan yang kerap terjadi saraf kejepit. Ikut mendampingi Natalie Saacke, Head of Corporate Communications & External Affairs Eka Hospital Group. ANTARA/Irfan.)

Pantau - Spesialis orthopedi tulang belakang dari Eka Hospital BSD Tangerang, dr. Asrafi Rizki Gatam, mengungkapkan bahwa kasus saraf terjepit kini semakin banyak dialami anak muda, bahkan remaja, akibat kebiasaan duduk terlalu lama dengan postur yang tidak ergonomis.

"Postur dan kebiasaan yang tidak ergonomis menyebabkan kelompok remaja lebih rentan mengalami saraf kejepit. Biasanya terjadi di area lumbar atau tulang belakang bagian bawah yang menyebabkan sakit punggung bagian bawah," jelas dr. Asrafi.

Dalam Jurnal Frontiers in Surgery, tercatat peningkatan kasus saraf terjepit sebesar 6,8 persen pada kelompok usia di bawah 21 tahun.

Gejala dan Faktor Risiko Saraf Kejepit pada Remaja

Saraf terjepit umum terjadi di area tulang belakang, leher, atau pergelangan tangan, dan disebabkan oleh tekanan jaringan lunak atau tulang di sekitarnya seperti otot, ligamen, diskus tulang belakang, atau bahkan pengapuran.

Faktor risiko utama pada remaja antara lain:

  • Obesitas
  • Posisi duduk tidak ergonomis
  • Penggunaan gadget dalam waktu lama
  • Olahraga berlebihan
  • Trauma atau cedera
  • Riwayat keluarga

Gejala saraf terjepit mencakup kesemutan, rasa sakit menjalar, sensasi terbakar atau tersetrum, mati rasa, kelemahan otot, hingga gangguan buang air dan hilangnya sensasi di area kelamin.

Kondisi ringan umumnya dapat diatasi melalui penanganan konservatif seperti fisioterapi, latihan peregangan, penguatan otot, serta istirahat.

Namun jika kebiasaan buruk tetap berlangsung, saraf terjepit bisa memburuk hingga menyebabkan kelumpuhan atau hilangnya fungsi anggota gerak.

Operasi BESS, Solusi untuk Kasus Berat

Untuk kasus saraf kejepit berat pada remaja, operasi menjadi salah satu pilihan terbaik.

Metode yang disarankan adalah BESS (Biportal Endoscopic Spine Surgery), yakni teknik operasi ultra-minimal invasif yang dilakukan melalui dua sayatan kecil, masing-masing berukuran sekitar 0,5–0,8 cm.

"Sebab metode BESS menggunakan dua sayatan sehingga memungkinkan dokter lebih leluasa dalam menggunakan instrumen bedah, dibandingkan endoskopi biasa yang hanya menggunakan satu sayatan," jelas dr. Asrafi.

Metode BESS memiliki tingkat presisi tinggi, waktu pemulihan yang lebih cepat, serta risiko komplikasi yang lebih ringan dibandingkan teknik bedah terbuka atau endoskopi konvensional.

Dengan meningkatnya kasus saraf terjepit pada remaja, dokter menyarankan agar masyarakat meningkatkan kesadaran akan pentingnya postur tubuh, durasi duduk, serta pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan.

Penulis :
Ahmad Yusuf