Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Gubernur DKI Jakarta Wacanakan Kenaikan Tarif Transjakarta, Diusulkan Maksimal Rp5.000

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Gubernur DKI Jakarta Wacanakan Kenaikan Tarif Transjakarta, Diusulkan Maksimal Rp5.000
Foto: (Sumber: Arsip foto - Bus Transjakarta melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (12/9/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/rwa/am..)

Pantau - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dipastikan akan menaikkan tarif Transjakarta, yang saat ini masih berada di angka Rp3.500 sejak 2005, dengan pertimbangan rasionalisasi subsidi dan tekanan anggaran.

Subsidi Tinggi dan Pemotongan Anggaran Jadi Dasar Revisi Tarif

Salah satu alasan utama kenaikan tarif adalah tingginya beban subsidi yang mencapai Rp9.700 per penumpang, serta belum pernah dilakukan kajian ulang terhadap tarif sejak diberlakukan 20 tahun lalu.

Selain itu, pemotongan anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp15 triliun turut menjadi dasar dalam revisi tarif layanan bus Transjakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewacanakan tarif baru berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp7.000.

Secara analisis Ability to Pay (ATP) dan Willingness to Pay (WTP), rentang tarif tersebut dinilai masih masuk akal.

Studi Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) pada 2010 menunjukkan ATP/WTP masyarakat sudah mencapai Rp5.000.

Jajak pendapat daring Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) terhadap 230 warga Jakarta juga menunjukkan rentang ATP/WTP antara Rp5.000 hingga Rp7.000.

Disarankan Tak Lebihi Rp5.000 untuk Cegah Peralihan ke Kendaraan Pribadi

Namun, sejumlah pihak mengingatkan bahwa kenaikan tarif tidak seharusnya hanya mengacu pada ATP/WTP semata, melainkan mempertimbangkan manajemen transportasi publik secara makro.

Disarankan agar tarif maksimum ditetapkan Rp5.000 agar masyarakat tetap menggunakan Transjakarta dan tidak beralih ke kendaraan pribadi seperti sepeda motor atau ojek daring yang dapat memperparah kemacetan dan risiko kecelakaan.

Kenaikan tarif juga harus memperhitungkan total biaya transportasi masyarakat Jakarta, yang menurut data Kementerian Perhubungan menyentuh 30 persen dari total pengeluaran rumah tangga.

Penulis :
Aditya Yohan