Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

Guru di Maluku Didorong Jadi Agen Perdamaian Lewat Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Guru di Maluku Didorong Jadi Agen Perdamaian Lewat Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Foto: (Sumber: Seorang guru beragama Islam memasuki gereja di Ambon untuk mempelajari budaya lintas agama (ANTARA/Dedy Azis).)

Pantau - Upaya merawat perdamaian di Maluku diperkuat melalui peran para guru dalam Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang bertujuan membentuk agen toleransi di ruang pendidikan.

Puluhan guru dari berbagai sekolah dan latar belakang agama mengikuti pelatihan ini untuk menjadi juru damai yang aktif membina empati dan persaudaraan antarumat di lingkungan sekolah dan masyarakat.

"Program ini menegaskan bahwa para guru bukan hanya pengajar, tetapi penanam benih-benih perdamaian bagi generasi masa depan Maluku," ujar penyelenggara.

Jejak Sejarah dan Peran Strategis Guru

Latar belakang konflik sosial pada Januari 1999 menjadi landasan pentingnya pelaksanaan program ini secara berkelanjutan.

Melalui kolaborasi antara Institut Leimena, Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr JB Sitanala, Sasakawa Peace Foundation, Yayasan Sombar Negeri Maluku, dan Gereja Protestan Maluku (GPM), program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas guru sebagai pilar rekonsiliasi dan kerja sama lintas iman.

"Guru memiliki peran strategis dalam rekonsiliasi dan membangun kerja sama lintas iman. Mereka adalah penjaga masa depan Maluku," ungkap perwakilan Institut Leimena.

Ambon yang dikenal sebagai UNESCO City of Music juga memanfaatkan musik sebagai media universal untuk menyatukan perbedaan.

"Orang Ambon suka menyanyi. Musik bukan hanya hiburan, tetapi alat memperkuat empati, solidaritas, dan persaudaraan," lanjutnya.

Dialog Lintas Iman dan Kunjungan Rumah Ibadah

Hingga 2025, Program LKLB telah menjangkau lebih dari 10.700 guru di seluruh Indonesia, dengan 120 guru di Maluku yang telah mengikuti pelatihan intensif sejak 2024.

Selain materi teori, para guru diajak berkunjung langsung ke rumah ibadah di Ambon, seperti Masjid Raya Al-Fatah dan Jemaat GPM Bethel, untuk berdialog tentang tradisi, simbol, dan pendekatan empati dalam kehidupan lintas agama.

Ketua Yayasan Al-Fatah Ambon, Hadi Basalamah, menyambut baik kegiatan ini sebagai wujud nyata mempererat hubungan salam-sarani (persaudaraan Islam-Kristen) di Maluku.

"Kita berharap generasi sekarang tidak lagi mengalami luka masa lalu. Kegiatan seperti ini membuat kita saling memahami dan mendekat satu sama lain," ungkapnya.

Program LKLB menjadi salah satu contoh inisiatif pendidikan yang menyasar akar keberagaman sebagai kekuatan sosial, bukan sebagai sumber perpecahan.

Penulis :
Gerry Eka