
Pantau - Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra, menyatakan bahwa penguatan inovasi melalui kolaborasi antara peneliti, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.
Dekarbonisasi dan Hilirisasi Jadi Langkah Nyata
“Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat masif mencapai 3.687 GW, namun pengembangannya membutuhkan peta jalan yang sinkron seperti yang tertuang dalam RUPTL untuk menambah kapasitas EBT sebesar 42,6 GW dan 10,3 GW storage,” ungkap Hangga.
Ia menekankan bahwa upaya dekarbonisasi lewat pemanfaatan teknologi, termasuk program biodiesel B40 hingga B50, menjadi langkah penting untuk menekan emisi tanpa mengorbankan kebutuhan energi nasional.
Selain itu, Hangga menyoroti pentingnya kebijakan hilirisasi energi yang diperkuat melalui Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025.
“Kebijakan hilirisasi diharapkan menjadi kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dan menciptakan 3 juta lapangan kerja baru,” ujarnya.
Hangga juga mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam sektor energi, termasuk defisit minyak yang signifikan.
Konsumsi minyak nasional tercatat mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan lifting minyak hanya sebesar 605.000 barel per hari.
Sementara di sektor gas, meskipun Indonesia memiliki surplus untuk gas alam jenis C1 dan C2, negara ini masih harus mengimpor gas LPG jenis C3 dan C4 dalam jumlah besar.
Di sisi lain, batu bara masih menyumbang 64 persen konsumsi listrik nasional karena dinilai memiliki harga dan pasokan yang lebih stabil dibandingkan dengan sumber energi lainnya, meskipun aspek lingkungan kerap menjadi sorotan.
Generasi Muda Didorong Ambil Peran Strategis di Sektor Energi
Hangga hadir dalam diskusi ini sebagai tokoh muda penerima beasiswa LPDP, lulusan sarjana dari Michigan State University dan magister dari New York University, yang kini aktif sebagai tenaga ahli di Kementerian ESDM.
Ia mendorong generasi muda untuk menjadi aset strategis bangsa, tidak hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai calon pengambil keputusan di masa depan.
Hangga mengimbau agar anak muda memilih bidang studi yang relevan dengan kebutuhan nasional, khususnya di sektor energi, hilirisasi, dan teknologi.
Menurutnya, sinergi dan kolaborasi adalah kunci menghadapi tantangan global di sektor energi.
“Berjalan bersama akan membawa kita melangkah lebih jauh dibandingkan berjuang sendirian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kontribusi nyata dari generasi muda akan menjadi penentu keberhasilan Indonesia dalam mencapai target net zero emission pada 2060.
- Penulis :
- Gerry Eka







