Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

Turun Langsung ke Lokasi Bencana, Universitas Aufa Royhan Lakukan Pengabdian Nyata di Tapanuli Selatan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Turun Langsung ke Lokasi Bencana, Universitas Aufa Royhan Lakukan Pengabdian Nyata di Tapanuli Selatan
Foto: (Sumber: Universitas Aufa Royhan, Padang, mengirimkan tim pengabdian untuk membantu korban bencana di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. ANTARA/HO-Universitas Aufa Royhan.)

Pantau - Universitas Aufa Royhan dari Padang, Sumatera Barat, mengirimkan tim pengabdian ke Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, untuk membantu pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah tersebut.

Laporan kegiatan kemanusiaan dirilis pada Kamis, 1 Januari 2026, menandai keterlibatan aktif kampus dalam upaya tanggap darurat dan pemulihan berkelanjutan di tengah masyarakat terdampak.

Bantuan Kemanusiaan Terintegrasi, Dari Layanan Kesehatan Hingga Dapur Umum

Tim pengabdian tidak hanya menyalurkan bantuan darurat, tetapi juga fokus memperkuat ketahanan masyarakat dan membangun sistem pemulihan yang bermartabat.

Jenis bantuan yang disalurkan meliputi pendirian posko layanan darurat dengan cakupan kesehatan, gizi, psikososial, dan WASH (Water, Sanitation, and Hygiene).

Tim medis juga melakukan pengobatan dan skrining penyakit pascabanjir seperti ISPA dan diare.

Distribusi hygiene kits, alat kebersihan, tenda pengungsi, hingga penyaluran air bersih melalui pompa air, tandon, genset, dan ember juga dilakukan.

Selain itu, dapur umum menyediakan makanan bergizi berbasis pangan lokal seperti ubi, jagung, dan telur, serta penyaluran paket sembako khusus bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia.

Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Rektor Universitas Aufa Royhan, Anto J. Hadi, menegaskan pentingnya keterlibatan langsung kampus dalam penanganan bencana.

“Kami ingin kampus benar-benar turun ke lapangan, bekerja bersama pemerintah desa dan warga. Ini adalah pengabdian nyata, bukan simbolik,” ujarnya.

Program ini menjadi contoh nyata bahwa solidaritas antara kampus, masyarakat, dan pemerintah dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun kembali harapan dan kehidupan warga terdampak.

Penulis :
Gerry Eka