Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

BMKG Catat Lebih dari 1 Juta Sambaran Petir di NTB Sepanjang 2025, Sumbawa Jadi Wilayah Terparah

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

BMKG Catat Lebih dari 1 Juta Sambaran Petir di NTB Sepanjang 2025, Sumbawa Jadi Wilayah Terparah
Foto: (Sumber: Peringatan Dini Cuaca Buruk. Sejumlah petugas bandara beraktivitas saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang di Lombok International Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (19/11/2017). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi).)

Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Mataram mencatat sebanyak 1.051.298 sambaran petir terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang periode 1 Januari hingga 21 Desember 2025.

Angka tersebut menunjukkan intensitas aktivitas petir yang tinggi secara klimatologis, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Sumbawa.

Sumbawa Paling Rawan, Zona Merah di Pesisir dan Dataran Tinggi

Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjelaskan bahwa Kabupaten Sumbawa mencatat jumlah sambaran petir tertinggi yakni 764.994 kali atau sekitar 72,77% dari total sambaran di seluruh NTB.

"Wilayah dengan kepadatan tertinggi berada di Sumbawa Besar dan pesisir utara yang berbatasan dengan Sumbawa Barat dan Dompu, dengan intensitas lebih dari 168 sambaran per kilometer persegi," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, aktivitas petir paling banyak terjadi saat musim hujan dan dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang kompleks, terutama di wilayah pesisir dan dataran tinggi.

Kabupaten Bima menyusul di posisi kedua dengan jumlah sambaran sebanyak 119.621 kali, kemudian disusul Kabupaten Dompu sebanyak 77.067 kali.

Mataram dan Lombok Timur Tercatat Paling Rendah

Sementara itu, wilayah dengan jumlah sambaran petir paling rendah adalah Kota Mataram dengan 2.952 kali dan Kabupaten Lombok Timur sebanyak 2.986 kali.

Sumawan menambahkan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari kondisi klimatologis alami dan perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan.

"Data ini penting untuk mitigasi risiko kebakaran, kerusakan infrastruktur, dan keselamatan jiwa yang bisa terdampak sambaran petir," jelasnya.

BMKG juga mendorong pemanfaatan informasi dini cuaca ekstrem untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar di masa mendatang.

Penulis :
Gerry Eka