Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

Wakil Ketua MPR Dorong Budaya Membaca Sejak Dini untuk Ciptakan Generasi Tangguh dan Berdaya Saing

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Wakil Ketua MPR Dorong Budaya Membaca Sejak Dini untuk Ciptakan Generasi Tangguh dan Berdaya Saing
Foto: (Sumber: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat Sosialisasi Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 di Universitas Muhammadiyah Kudus, Jawa Tengah, Kamis (27/11/2025). ANTARA/HO-MPR RI.)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya peningkatan budaya membaca sebagai bagian dari penguatan literasi demi membentuk generasi penerus bangsa yang memiliki daya saing tinggi.

Menurutnya, budaya membaca adalah bekal penting dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

"Budaya membaca anak bangsa harus terus dibangun agar generasi penerus memiliki kemampuan yang memadai menghadapi berbagai tantangan dalam setiap proses pembangunan," ungkapnya.

Rendahnya Minat Baca Masyarakat

Lestari memaparkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 yang menunjukkan rendahnya pemanfaatan fasilitas literasi oleh siswa.

Hanya 44,56 persen siswa di Indonesia yang memanfaatkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat.

Secara rinci, siswa SD tercatat 37,31 persen, mahasiswa 41,59 persen, siswa SMP 52,01 persen, dan siswa SMA 55,32 persen.

Sementara itu, data dari GoodStats periode Januari hingga Februari 2025 mencatat hanya 20,7 persen masyarakat Indonesia yang rutin membaca setiap hari.

Beberapa penyebab rendahnya minat baca antara lain kurangnya waktu, motivasi pribadi yang rendah, serta dominasi konten digital seperti video, media sosial, dan informasi instan dari internet.

Peran Strategis Semua Pihak

Lestari menilai bahwa semua pihak harus mencermati data tersebut dan mengambil langkah strategis untuk menumbuhkan minat baca secara konsisten, terutama di kalangan generasi muda.

Ia menyebut pentingnya strategi yang tepat untuk mengatasi kendala-kendala yang menjadi penyebab rendahnya minat baca.

Menurutnya, budaya membaca harus dibangun sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah.

Ia juga mendorong partisipasi aktif dari pemangku kepentingan di tingkat pusat, daerah, maupun masyarakat dalam menciptakan ekosistem literasi yang kuat.

Hal-hal yang dinilai krusial untuk mendukung budaya membaca meliputi ketersediaan buku yang berkualitas, akses mudah terhadap bahan bacaan, serta penyediaan waktu khusus membaca di sekolah.

Penulis :
Gerry Eka