
Pantau - Musisi sekaligus dokter bedah, Tompi, menegaskan bahwa kritiknya terhadap materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono bukan dilatarbelakangi urusan pribadi, melainkan soal etika dalam menyampaikan kritik kepada figur publik.
Penegasan ini disampaikan menyusul pernyataan Tompi mengenai candaan Pandji yang menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pertunjukan berjudul Mens Rea.
Dalam materi tersebut, Pandji menyebut Gibran terlihat seperti orang mengantuk.
"Saya klarifikasi dulu bahwa saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam beberapa kali urusan politik kita tidak selalu satu track, tapi kita temenan. Saya baik-baik aja sama dia, dan enggak punya personal issue, tidak ada urusan pribadi," ujar Tompi.
Setuju dengan Isi Konten, Kecuali Satu Bagian
Tompi menyatakan bahwa dirinya pernah berdiskusi dan bekerja sama dengan Pandji, termasuk dalam urusan politik.
Setelah menonton pertunjukan Mens Rea yang berdurasi lebih dari dua jam, Tompi mengaku setuju dengan sebagian besar isi konten Pandji.
"Hampir semuanya, secara umum saya setuju dengan kontennya. Seratus persen benar. Saya setuju dengan kontennya. Kegelisahannya itu adalah kegelisahan kita semua. Dan dia berhasil menyampaikan pesan itu dengan baik, gitu. Saya cuma menyayangkan satu hal aja," ungkapnya.
Poin yang disayangkan oleh Tompi adalah ketika kritik terhadap pejabat publik diarahkan pada aspek fisik, bukan kinerja atau kebijakan.
Sebagai dokter bedah plastik, Tompi menjelaskan bahwa kondisi mata Gibran yang tampak mengantuk merupakan kondisi medis yang disebut ptosis.
"Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, Pak Wapres, itu kondisi ptosisnya tidak terlalu berat," jelasnya.
Kritik Etika dalam Humor, Pandji Respon Positif
Pernyataan Tompi menjadi perbincangan setelah ia mengunggah kritik di akun Instagram pribadinya @dr_tompi.
Dalam unggahannya, Tompi menyampaikan pandangannya bahwa candaan soal kondisi fisik bukanlah bentuk kritik yang cerdas.
"Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir," tulis Tompi.
Pandji Pragiwaksono merespons kritik tersebut secara langsung melalui kolom komentar.
Alih-alih menunjukkan keberatan, Pandji justru mengapresiasi masukan yang diberikan oleh Tompi.
Kasus ini memicu diskusi publik yang lebih luas mengenai batas antara humor, kritik sosial, dan penghinaan terhadap kondisi fisik seseorang—terutama ketika menyangkut figur publik seperti Wakil Presiden.
- Penulis :
- Aditya Yohan








