
Pantau - Hasil riset Lembaga Survei KedaiKOPI menunjukkan bahwa integritas dan ketegasan menjadi kriteria utama masyarakat dalam memandang sosok pemimpin ideal nasional.
Riset bertajuk Eksplorasi Kriteria Pemimpin Ideal Nasional tersebut dirilis pada Minggu 11 Januari dan dijelaskan oleh Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio.
Temuan Riset dan Tujuan Kajian
Hendri Satrio menyampaikan riset ini bertujuan memberikan gambaran kepada elite politik dan calon pemimpin mengenai kriteria, kategori, serta kompetensi pemimpin yang diinginkan masyarakat Indonesia.
“Riset ini untuk menginformasikan kepada elite politik, kepada calon pemimpin tentang kriteria, kategori, kompetensi pemimpin yang diinginkan oleh masyarakat di Indonesia,” ungkap Hendri Satrio.
Penelitian dilakukan dengan metode focus group discussion yang dilaksanakan pada 2 hingga 3 Desember 2025.
Sebanyak 30 responden dilibatkan dalam riset ini dengan latar belakang beragam, mulai dari akademisi, NGO, mahasiswa, jurnalis, ibu rumah tangga, pengemudi ojek online, pedagang, pengusaha, ketua RT, hingga guru.
Komposisi responden terdiri dari 73,3 persen laki-laki dan 26,7 persen perempuan.
Hendri Satrio menambahkan riset ini juga memberikan gambaran kepada masyarakat tentang pemimpin yang seharusnya mereka pilih di masa mendatang.
“Jadi, kita tidak bicara tentang siapa, kita tidak bicara tentang nama, tapi kita memberikan masukan kepada rakyat Indonesia. Ini loh sebetulnya dari hasil FGD kita, pemimpin idealnya itu seperti apa, karakter, kriteria, kategori, dan isu yang dibawa oleh mereka,” ujarnya.
Pandangan Akademisi dan Perbedaan Persepsi Publik
Rektor Institut Harkat Negeri Sudirman Said menyatakan terdapat empat kriteria yang secara konsisten muncul dalam menentukan pemimpin ideal, yakni integritas, kompetensi, sifat inspirasional, dan visi lingkungan ke depan yang luas.
“Semakin jujur lingkungan yang diurus akan semakin tinggi integritas yang dibutuhkan, dan riset ini seperti menjadi justifikasi yang saya katakan,” ungkap Sudirman Said.
Ia menilai perbedaan persepsi antara kelompok elit dan non-elit dalam menentukan pemimpin ideal sebagai hal yang wajar.
“Menurut saya wajar antara elit dan non-elit itu beda persepsi terkait pemimpin ini, karena elit ini memang fokus pada hulu seperti good governance dan lainnya sementara non-elit fokus hilir dan nyata,” ujarnya.
Peneliti BRIN Prof. Siti Zuhro menilai dinamika rekrutmen kepemimpinan di Indonesia saat ini tidak berjalan mulus.
“Kita merasakan ada dinamika dalam rekrutmen kepemimpinan yang tidak mulus yang ditandai oleh suksesi baik nasional maupun daerah, padahal negara kita ini luas, tetapi ketika pilpres ini seperti tidak ada orang, apa yang salah?,” ungkap Siti Zuhro.
Ia berharap eksplorasi kepemimpinan melalui FGD dapat menjadi alat untuk memunculkan pemimpin baru yang lebih ideal.
Laporan FGD KedaiKOPI Desember 2025 juga menyoroti perbedaan preferensi antara kelompok elit dan non-elit dalam menilai figur pemimpin.
Kelompok elit cenderung memilih pemimpin yang merakyat melalui blusukan, ketegasan berbasis perencanaan strategis, keberanian mengambil risiko, serta visi jangka panjang yang besar.
Kelompok non-elit lebih memilih pemimpin dengan gesture empatik, tampilan sederhana, respons cepat terhadap krisis, serta religiusitas sebagai shortcut moral.
Dalam aspek kompetensi, kelompok elit menilai kecerdasan dari kemampuan berpikir berbasis data, logika, dan problem solving strategis, sementara kelompok non-elit menilai dari ijazah, komunikasi bahasa keseharian, serta arahan langsung ke bawahan.
Kedua kelompok sepakat bahwa pengalaman dan prestasi tanpa kontroversi menjadi syarat penting, dengan kelompok non-elit menambahkan latar belakang keluarga yang bersih sebagai kriteria tambahan.
Dalam isu kebijakan, kelompok elit memprioritaskan geopolitik kedaulatan global, keadilan ekologis, moratorium tambang, dan tata kelola BUMN militer, sementara kelompok non-elit memprioritaskan isu pungli, birokrasi BPJS, bantuan sosial, pangan murah, serta isu Palestina.
Kedua kelompok juga sepakat pada pentingnya pemerataan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, meski kelompok non-elit lebih menekankan manfaat kebijakan yang dapat dirasakan secara langsung.
- Penulis :
- Aditya Yohan








