Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kemendukbangga Nilai Generasi Berencana Mampu Wujudkan Ruang Aman bagi Perempuan dalam Keluarga

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemendukbangga Nilai Generasi Berencana Mampu Wujudkan Ruang Aman bagi Perempuan dalam Keluarga
Foto: (Sumber: Audiensi Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (kiri) bersama Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor membahas perlindungan perempuan di dalam keluarga di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (21/1/2026). ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN.)

Pantau - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kemendukbangga melalui BKKBN menyatakan program Generasi berencana mampu mendukung terwujudnya ruang aman bagi perempuan dalam keluarga.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji dalam audiensi yang membahas perlindungan perempuan dalam keluarga.

Wihaji menjelaskan bahwa salah satu fungsi utama keluarga adalah fungsi perlindungan yang bertujuan memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh anggota keluarga.

Ia menegaskan bahwa perempuan menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pelaksanaan fungsi perlindungan keluarga.

Kemendukbangga dan BKKBN mendorong kolaborasi lintas pihak melalui program Generasi berencana atau Genre untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan dalam keluarga.

Program Genre mengajak generasi muda untuk tidak melakukan pernikahan dini dan tidak melakukan seks pranikah sebagai upaya pencegahan risiko kesehatan dan sosial.

Selain itu, program tersebut mendorong pengaturan jarak kehamilan guna menurunkan Angka Kematian Ibu.

"Beberapa upaya yang dapat dilakukan Kemendukbangga/BKKBN berkaitan dengan mewujudkan ruang aman bagi perempuan dalam keluarga adalah dengan kolaborasi program Genre yang di dalamnya terdapat ajakan untuk tidak melakukan pernikahan dini dan tidak melakukan seks pranikah, serta pengaturan jarak kehamilan untuk mengatasi Angka Kematian Ibu (AKI)," ungkap Wihaji.

Berdasarkan hasil konsultasi Komnas Perempuan pada 21 November 2025, Angka Kematian Ibu dinilai menjadi isu krusial yang dihadapi perempuan dalam keluarga.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2022 mencatat Angka Kematian Ibu setelah melahirkan mencapai 189 per 100 ribu kelahiran hidup yang salah satunya dipengaruhi oleh perkawinan anak.

Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor menyatakan bahwa kerentanan posisi perempuan dapat mengancam ketahanan keluarga secara menyeluruh.

Ia menilai selain Angka Kematian Ibu terdapat risiko lain yang mengancam keselamatan perempuan seperti kekerasan dalam rumah tangga.

"Selain AKI, dampak kerentanan perempuan dalam keluarga yang dapat mengancam pada kematian, antara lain kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pembunuhan perempuan atau femisida, serta perempuan terlibat dalam radikalisme dan terorisme," ungkap Maria.

Dalam audiensi tersebut, Wihaji mendorong kerja sama dengan Komnas Perempuan melalui kesepahaman bersama atau Memorandum of Understanding yang memuat teknis kolaborasi secara rinci.

Kolaborasi tersebut diarahkan pada penciptaan ruang aman bagi perempuan melalui program edukasi dengan pendekatan siklus hidup.

Kemendukbangga dan BKKBN memiliki program Kelas Orang Tua Hebat serta Kelas Orang Tua Bersahaja atau Bersahabat dengan Remaja yang ditujukan bagi masyarakat umum dan para kader.

Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan perempuan sekaligus meningkatkan ketahanan keluarga secara berkelanjutan.

Penulis :
Ahmad Yusuf