Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kementan Tekankan Peran Strategis Tembakau sebagai Penyumbang Devisa dan Penggerak Ekonomi Desa

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kementan Tekankan Peran Strategis Tembakau sebagai Penyumbang Devisa dan Penggerak Ekonomi Desa
Foto: (Sumber : Suasana forum diskusi bertajuk “Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau” di Kementerian Pertanian Jakarta. ANTARA/HO-Kementan.)

Pantau - Kementerian Pertanian menekankan komoditas tembakau berperan penting dalam menyumbang devisa negara serta berkontribusi terhadap penerimaan dan perekonomian daerah sentra produksi.

Ketua Kelompok Tanaman Semusim Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan Yudi Wahyudi menyatakan tembakau bukan sekadar komoditas biasa, melainkan penggerak ekonomi pedesaan.

Ia mengatakan, "Dari sisi penerimaan negara, kontribusi cukai hasil tembakau itu bisa mencapai sekitar Rp280 triliun. Tembakau adalah tanaman masyarakat petani daerah, bukan hanya soal devisa, tetapi juga penggerak ekonomi desa dari hulu sampai hilir,".

Hal tersebut disampaikan dalam forum diskusi bertajuk "Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau" di Kementerian Pertanian yang membahas keseimbangan antara kesehatan publik dan keberlanjutan ekonomi sektor tembakau.

Industri hasil tembakau menghadapi tekanan regulasi seperti kenaikan cukai, pembatasan kadar, kemasan polos, dan pembatasan penjualan.

Yudi mengatakan, "Sehingga dampak pembatasan tar nikotin akan mengganggu. IHT tidak bisa menyerap produktivitas petani tembakau,".

Pada 2025, luas tanam tembakau diperkirakan mendekati 200 ribu hektare dengan produksi hampir 300 ribu ton, namun produktivitas rata-rata turun menjadi sekitar 1,3 ton per hektare.

Sentra produksi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, antara lain Jawa Tengah sekitar 50 ribu hektare dengan produksi 56 ribu ton dan Jawa Barat 8.600 hektare dengan produksi sekitar 8.000 ton.

Secara nasional terdapat sekitar 571.257 keluarga petani tembakau yang jika dihitung anggota keluarga dapat mencapai 4 juta jiwa dan hingga 6 juta orang dari hulu ke hilir.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN Setiari Marwanto menyatakan fokus pada pengembangan varietas adaptif terhadap perubahan iklim.

Ia mengatakan, "Kami di BRIN fokus pada pengembangan varietas yang adaptif terhadap perubahan iklim. Tantangan ke depan bukan hanya soal pasar, tetapi juga bagaimana tanaman ini mampu bertahan di tengah kondisi cuaca yang makin tidak menentu,".

Setiari mengatakan, "Penelitian kami bertujuan mendapatkan galur atau varietas tembakau yang toleran terhadap cekaman kadar air tanah tinggi, tetapi tetap memiliki mutu daun rajangan kering yang baik. Jadi bukan hanya tahan terhadap genangan, tetapi kualitasnya juga tetap sesuai standar industri,".

Sekretaris Jenderal DPN Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Mudi mengatakan, "Varietas tembakau kita rata-rata kandungan nikotinnya 3 sampai 8 miligram. Varietas dengan kandungan di bawah 1 miligram itu sangat sedikit dan umumnya dari luar negeri. Kalau pembatasan ini diterapkan tanpa kajian mendalam, pabrik bisa beralih ke impor,".

Ia menegaskan, "Petani tidak bisa tanam, pabrik tidak bisa produksi. Ini bisa menjadi pukulan telak bagi IHT kita,”.

Mudi mengingatkan kontribusi cukai ratusan triliun rupiah dan ketergantungan jutaan orang membuat kebijakan harus dirumuskan secara hati-hati karena petani hanya menikmati sekitar delapan persen dari total penerimaan cukai.

Penulis :
Aditya Yohan