
Pantau - Komisi IV DPR RI mendorong pemetaan kebutuhan garam nasional secara rinci dan penguatan intensifikasi berbasis teknologi sebagai langkah strategis dalam pengembangan sektor pergaraman nasional guna mewujudkan swasembada yang berkelanjutan.
Anggota Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menjelaskan kebutuhan garam nasional terbagi dalam tiga kategori utama, yakni garam konsumsi rumah tangga, garam aneka pangan untuk industri makanan dan minuman, serta garam industri untuk kebutuhan kimia seperti chlor-alkali plant.
Ia menyebut kebutuhan garam konsumsi nasional saat ini mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, sementara kebutuhan garam aneka pangan berkisar 700 ribu ton per tahun.
Dengan demikian, total kebutuhan garam konsumsi dan aneka pangan berada di kisaran 1,9 hingga 2 juta ton setiap tahun sehingga diperlukan perencanaan yang lebih akurat untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara berkelanjutan.
Panggah menyampaikan, "Selain itu juga, ada kebutuhan garam industri yang mencapai sekitar 3,5 juta ton dengan spesifikasi yang berbeda,".
Legislator Fraksi Partai Golkar tersebut meminta Pemerintah menetapkan prioritas yang jelas dalam peta jalan swasembada garam nasional dengan membenahi stabilitas produksi garam konsumsi dan aneka pangan sebelum mengejar kebutuhan sektor industri secara menyeluruh.
Ia menegaskan, "Kami meminta pemetaan yang detail dan target yang terukur. Jangan hanya berbicara secara global. Mana yang diswasembadakan lebih dahulu, itu harus jelas".
Defisit Produksi Masih Terjadi
Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menyoroti adanya defisit produksi garam nasional yang masih terjadi hingga saat ini.
Ia menyebut kebutuhan garam nasional sekitar 3 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 1,64 juta ton sehingga ketergantungan impor masih terjadi bahkan untuk garam konsumsi.
Firman menilai pendekatan kebijakan tidak cukup hanya melalui perluasan lahan atau ekstensifikasi semata.
Dorong Intensifikasi Berbasis Teknologi
Ia mendorong peralihan kebijakan ke arah intensifikasi berbasis teknologi dengan meningkatkan kadar NaCl garam nasional melalui modernisasi proses produksi seperti yang diterapkan di negara-negara maju.
Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut juga meminta agar mata rantai produksi yang tidak efisien dipotong guna meningkatkan daya saing.
Firman menyatakan, "Pengolahan air laut harus langsung diarahkan menjadi produk akhir dengan teknologi modern, sehingga lebih efektif dan memiliki nilai tambah,".
Ia juga mendorong keterlibatan sektor swasta melalui pemberian insentif, kemudahan regulasi, serta jaminan stabilitas harga agar investasi jangka panjang dapat terwujud.
Firman menegaskan, "Jika hanya mengandalkan program stimulus tanpa kepastian harga dan investasi jangka panjang, swasembada akan sulit tercapai,".
PT Garam dinilai tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai penyangga stok dan stabilisator harga garam nasional dalam menjaga keseimbangan pasar.
- Penulis :
- Arian Mesa







