
Pantau - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menyatakan pendakian di kawasan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat dibuka kembali mulai 1 April 2026 setelah sebelumnya ditutup selama musim hujan untuk pemulihan dan peningkatan ekosistem kawasan.
Kepala Balai TNGR NTB Budhy Kurniawan mengatakan, "Jalur pendakian Gunung Rinjani dibuka kembali pada 1 April 2026,".
Pembukaan tersebut diawali dengan Ajang Rinjani Begawe 2026 yang akan berlangsung pada 28 Maret 2026 di Teras Udayana, Kota Mataram.
Ia menyampaikan, "Kegiatan ini menjadi penanda resmi pembukaan jalur pendakian Gunung Rinjani sekaligus peluncuran berbagai program strategis berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat,".
Agenda utama dalam kegiatan tersebut meliputi program Rinjani 7, Kalender Event Rinjani, Putri Rinjani, deklarasi kerja sama dengan Universitas Mataram, serta penyerahan SK persetujuan penggunaan air non-komersial.
Ia mengatakan, "Kegiatan ini sebagai wujud sinergi pengembangan ekowisata berkelanjutan,".
Ia menambahkan, "Serta memastikan pendakian yang aman, nyaman dan bertanggung jawab,".
Peningkatan Sarana dan Keselamatan Jalur
Selama masa penutupan, Balai TNGR melakukan survei lokasi jalur pendakian untuk peningkatan dan pembangunan sarana serta prasarana.
Ia menyampaikan, "Ini salah satu upaya untuk peningkatan keselamatan jalur pendakian di kawasan Gunung Rinjani,".
Lokasi jalur yang disurvei meliputi Aik Berik, Timbanuh, dan Tetebatu serta perencanaan pembangunan sarana pengaman di jalur Sembalun, Torean, dan Senaru.
Kegiatan survei mencakup penentuan titik pembangunan shelter, pemasangan railing, perbaikan dan penataan jalur, serta penelusuran sumber mata air terutama di Plawangan Sembalun.
Ia menyampaikan, "Kemudian hasil survei tim akan menjadi pedoman utama dalam peningkatan dan pembangunan sarana serta prasarana pendakian,".
Berbasis Data dan Prinsip Konservasi
Setiap temuan di lapangan seperti kondisi jalur, titik rawan, kebutuhan fasilitas keselamatan, dan aspek kenyamanan pendaki dicatat dan dianalisis secara menyeluruh.
Ia mengatakan, "Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas perbaikan dan pengembangan fasilitas, agar proses pendakian dapat berlangsung lebih aman, nyaman, tertata, dan tetap memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan,".
Pengelolaan jalur pendakian dilakukan berbasis data dan kondisi riil di lapangan.
Ia menyampaikan, "Harapannya, seluruh jalur dapat terus ditingkatkan kualitasnya sehingga mampu memberikan pengalaman pendakian yang lebih baik tanpa mengesampingkan aspek konservasi,".
- Penulis :
- Aditya Yohan







