
Pantau - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman meminta pemerintah segera merumuskan peta jalan ekspor beras dari produksi petani dalam negeri menyusul melimpahnya stok beras nasional yang mencapai 3,53 juta ton pada akhir Desember 2025.
Pernyataan tersebut disampaikan Alex saat bersilaturahmi bersama para penyuluh pertanian se-Sumatra Barat di Kota Padang pada 7 Maret 2026.
Ia menilai peningkatan produksi beras nasional harus diikuti strategi penyerapan pasar global agar stok melimpah tidak menjadi persoalan baru bagi sektor pertanian.
"Tantangan kita hari ini, menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya, dalam merebut potensi pasar global", ungkapnya.
Inovasi Sawah Pokok Murah Tekan Biaya Produksi
Alex menjelaskan penurunan biaya produksi dapat dilakukan melalui inovasi di sektor pertanian.
Salah satu inovasi datang dari petani asal Sumatra Barat, Ir Djoni, yang menemukan metode Sawah Pokok Murah.
Metode tersebut telah diuji coba di seluruh kabupaten dan kota di Sumatra Barat dengan hasil panen yang disebut tidak kalah dibandingkan metode konvensional.
Metode Sawah Pokok Murah tidak melalui pengolahan tanah yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar dalam bercocok tanam padi.
Selain itu metode tersebut tidak memerlukan pemupukan kimia.
Metode tersebut juga tidak memerlukan penyemprotan pestisida maupun fungisida.
Kondisi cuaca kemarau juga dinilai tidak terlalu menjadi hambatan dalam penerapan metode tersebut.
Dengan kondisi tersebut risiko gagal panen akibat faktor cuaca dapat semakin diperkecil.
"Dengan adanya inovasi Sawah Pokok Murah yang telah dilaksanakan secara massif di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan dan Dharmasraya, biaya produksi sudah bisa dipastikan akan jauh berkurang jika dibandingkan dengan metode konvensional sebagaimana telah diterapkan petani selama ini", jelasnya.
Kualitas Beras dan Tantangan Menembus Pasar Global
Alex juga menyoroti persoalan kualitas beras nasional terutama terkait angka patahan atau broken dan menir.
Ia menilai persoalan tersebut membutuhkan campur tangan pemerintah melalui riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta perguruan tinggi.
"Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP, mengandung patahan atau broken atau menir berada di angka 25 sampai 40 persen", ujarnya.
Ia membandingkan bahwa beras dari negara produsen lain di Asia Tenggara memiliki kadar broken sekitar 5 persen.
"Jika kondisi ini tak segera diatasi, pasar beras global akan sangat sulit ditembus", tegasnya.
Alex juga mengingatkan bahwa jika pasar global tidak dapat ditembus maka program swasembada pangan nasional akan menghadapi tantangan besar.
Program swasembada pangan tersebut merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi, baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu nantinya. Ini tantangan yang harus segera dijawab", katanya.
Alex juga menyinggung bahwa meskipun topografi wilayah Sumatra Barat didominasi perbukitan dan tidak memiliki hamparan sawah luas, daerah tersebut telah lama mampu mencapai swasembada beras.
"Walaupun topografi daerahnya perbukitan sehingga tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumatera Barat ini sudah mampu swasembada beras sejak lama", ujarnya.
Kegiatan silaturahmi tersebut juga disertai agenda buka puasa Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi yang dihadiri perwakilan penyuluh pertanian dari berbagai daerah di Sumatra Barat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti beserta jajaran.
- Penulis :
- Leon Weldrick







