
Pantau - PT Pertamina Patra Niaga memastikan layanan energi berupa bahan bakar minyak (BBM) dan LPG dalam kondisi aman selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyampaikan hal tersebut saat menjawab pertanyaan awak media di Rest Area KM57 Cikampek, Jawa Barat, Senin 16 Maret 2026.
Mars Ega Legowo Putra mengatakan, "Layanan energi ini Insya Allah kita pastikan aman selama Ramadan Idul Fitri ini, sehingga kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panic buying".
Ia menjelaskan bahwa Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan pasokan BBM dan LPG jauh sebelum periode Ramadhan dan Lebaran.
Menurutnya, persiapan penyediaan energi tersebut telah dilakukan sejak setelah periode Natal dan Tahun Baru.
"Kami sudah siapkan BBM maupun LPG untuk Ramadan Idul Fitri ini sejak pascaNatal dan Tahun Baru," ungkapnya.
Selain memastikan ketersediaan pasokan, Pertamina Patra Niaga juga menyiapkan layanan atensi untuk sejumlah wilayah tertentu.
Layanan atensi tersebut disiapkan bagi daerah yang memerlukan pengiriman distribusi khusus.
Wilayah yang menjadi perhatian distribusi antara lain daerah rawan bencana, kawasan wisata, dan daerah terpencil.
Stok BBM Nasional di Atas Batas Minimum
Sementara itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto bahwa stok BBM dan LPG menjelang Lebaran 2026 berada dalam kondisi aman.
Bahlil menyebut cadangan berbagai jenis BBM saat ini berada di atas batas minimum sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran.
Cadangan Jenis BBM Khusus Penugasan RON 90 tercatat sekitar 24,39 hari.
Cadangan Jenis BBM Umum RON 92 tercatat sekitar 28 hari.
Cadangan Jenis BBM Umum RON 98 tercatat sekitar 31 hari.
Cadangan solar subsidi mencapai sekitar 16,41 hari.
Cadangan solar CN 53 mencapai sekitar 46 hari.
Cadangan avtur tercatat sekitar 38 hari.
Pemerintah Diversifikasi Pasokan LPG Impor
Bahlil juga menyampaikan bahwa pasokan LPG nasional tetap terjaga meskipun rantai distribusi global mengalami dinamika.
Sekitar 70 hingga 72 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat.
Sekitar 20 persen impor LPG berasal dari kawasan Timur Tengah.
Sisanya berasal dari sejumlah negara lain.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah, pemerintah menyiapkan langkah diversifikasi sumber pasokan.
Salah satu langkahnya adalah membuka peluang tambahan impor LPG dari Amerika Serikat serta negara lain seperti Australia.
Pasokan solar dinilai relatif lebih stabil karena seluruh produksinya berasal dari dalam negeri.
Stabilitas tersebut juga didukung oleh mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan RDMP Balikpapan pada Januari 2026.
Proyek RDMP Balikpapan meningkatkan kapasitas produksi kilang nasional.
Dengan beroperasinya proyek tersebut, impor bensin diperkirakan dapat berkurang sekitar 5,5 juta ton per tahun.
Selain itu impor solar juga diperkirakan berkurang sekitar 3,5 juta ton per tahun.
- Penulis :
- Shila Glorya








