Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Polisi Berlutut Hentikan Bentrokan Warga di Manggarai, Aksi Humanis Viral di NTT

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Polisi Berlutut Hentikan Bentrokan Warga di Manggarai, Aksi Humanis Viral di NTT
Foto: Tangkapan layar Bhabinkamtibmas Aipda Arladius Modestus Arno berlutut dihadapan warga yang hendak bentrok (sumber: Facebook/@hendrik Ilo)

Pantau - Aksi Bhabinkamtibmas Polres Manggarai Aipda Arladius Modestus Arno yang berlutut dan memohon kepada warga berhasil menghentikan bentrokan dua kelompok di jalan Trans Flores, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Selasa 16 Maret.

Peristiwa tersebut melibatkan dua kelompok warga dari Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko yang terlibat konflik hingga situasi memanas.

Kejadian ini menjadi sorotan setelah berlangsung pada Selasa 17 Maret 2026 pukul 16:10 WIB dengan waktu baca dua menit.

Kronologi Ketegangan di Trans Flores

Ketegangan bermula ketika kedua kelompok warga tidak mencapai kesepakatan damai sehingga potensi bentrokan semakin meningkat.

"Sampai saat ini ketegangan masih terjadi di daerah itu, semoga cepat membaik," ungkap pihak terkait.

"Situasi saat itu sudah semakin panas, kelompok yang satu dengan yang lain tidak mau sepakat untuk diselesaikan secara damai," ujarnya.

Anggota kepolisian yang berada di lokasi telah berupaya dengan berbagai cara untuk mencegah bentrokan agar tidak menimbulkan korban jiwa.

Dalam situasi tersebut, Aipda Arno secara spontan berlutut sambil menangis dan memohon kepada kedua kelompok agar menghentikan pertikaian.

Aksi Humanis dan Respons Kepolisian

Aipda Arno menyampaikan bahwa kedua kelompok warga tersebut merupakan warga binaannya di wilayah tugasnya.

"Bagi saya mereka itu adalah saudara-saudara saya, sering kalau bertugas, mereka sering ajak makan di rumah mereka, cerita-cerita dan kumpul-kumpul bersama," ungkapnya.

Ia mengaku sedih dan kecewa melihat konflik terjadi di antara warga yang ia anggap sebagai keluarga sendiri.

Tindakan berlutut dan memohon tersebut akhirnya berhasil meredam konflik antar pemuda di wilayah tersebut.

Aipda Arno menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari bantuan anggota kepolisian lainnya di lokasi.

Kabid Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra menegaskan bahwa Polri mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam menangani konflik.

“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Kepolisian juga mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memicu konflik serta menjaga persaudaraan di wilayah Manggarai.

Peristiwa di Desa Bula ini menjadi pengingat bahwa polisi tidak hanya sebagai penegak hukum tetapi juga penjaga kedamaian yang mengedepankan hati nurani.

Penulis :
Arian Mesa