Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Menag Nasaruddin Umar Tekankan Ekoteologi dan Peran Agama Menjaga Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menag Nasaruddin Umar Tekankan Ekoteologi dan Peran Agama Menjaga Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan
Foto: (Sumber: Menteri Agama RI Nasaruddin Umar berfoto bersama ulama-ulama dunia dalam konferensi internasional yang diinisiasi Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir. ANTARA/HO-Kemenag.)

Pantau - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya ekoteologi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence dalam konferensi internasional yang diinisiasi oleh Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.

Konferensi internasional tersebut dihadiri oleh Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari serta para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara.

Dalam paparannya, Menteri Agama mengawali dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh peserta konferensi.

Menag juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi atas dukungannya terhadap penyelenggaraan konferensi internasional tersebut.

Menag menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis.

“Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” ungkap Menag.

Menag menekankan bahwa dalam perspektif Islam, tanggung jawab manusia tidak hanya sebatas mencari penghidupan, tetapi juga mengandung dimensi moral, amanah sosial, dan kesadaran untuk memakmurkan bumi.

Menag menegaskan bahwa bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi yang harus dijaga keseimbangannya.

“Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” tegasnya.

Menag menyambut baik pandangan Menteri Wakaf Mesir yang menyatakan bahwa pembangunan peradaban merupakan kewajiban dalam Islam.

Menag juga sependapat dengan pemikiran cendekiawan Aljazair Malik bin Nabi yang menyebut peradaban bukan sekadar akumulasi materi, melainkan bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh.

“Peradaban yang berdiri di atas ikatan manusia, tanah, dan waktu tidak akan berbuah bila tidak dipersatukan oleh dorongan moral dan spiritual yang mengarahkan manusia, mengendalikan nalurinya, memberi makna pada waktu, dan mengubah tanah dari sekadar bahan mentah menjadi nilai peradaban,” ujar Menag.

Menag menegaskan bahwa persoalan keterbelakangan dan kekosongan nilai tidak dapat diselesaikan dengan meniru teknologi atau mengimpor produk peradaban yang sudah jadi.

Menurut Menag, solusi harus dimulai dengan memperbaiki manusia dan membangun kembali relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja.

“Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan terjaga dan terbangun dalam nurani manusia bukan sebagai ritual yang kaku, melainkan sebagai energi moral yang mengendalikan perilaku, membebaskan akal, dan mengarahkan naluri,” katanya.

Menag menilai bahwa tantangan utama di era kecerdasan buatan bukan terletak pada kemajuan algoritma, melainkan pada upaya menjaga sisi kemanusiaan manusia.

Menag menekankan bahwa dunia tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, tetapi juga profesi yang beretika dan memiliki nurani.

Menag menjelaskan bahwa peran agama di era modern adalah sebagai kompas moral bagi kemajuan, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja dan profesi.

Menag memaparkan upaya Indonesia sebagai negara Muslim dengan jumlah penduduk terbesar dalam mengaitkan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional dan penguatan etika kerja.

“Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dari sisi jumlah penduduk, kami berupaya meneguhkan pemahaman ini melalui pengaitan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional, serta penguatan etika kerja dalam lembaga-lembaga negara dan masyarakat,” jelasnya.

Menag menegaskan bahwa tantangan sesungguhnya bukan pada penggunaan kecerdasan buatan dalam ranah agama, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut diatur dan dikendalikan.

Menag menekankan bahwa manusia dengan akal, nilai, dan tanggung jawab etik harus tetap memimpin, sementara agama harus tetap menjadi sumber hidayah dan makna.

Penulis :
Ahmad Yusuf