HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Menkomdigi Meutya Hafid: Transformasi Digital ASEAN Harus Diukur dari Manfaat yang Merata, Bukan Sekadar Teknologi Canggih

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Menkomdigi Meutya Hafid: Transformasi Digital ASEAN Harus Diukur dari Manfaat yang Merata, Bukan Sekadar Teknologi Canggih
Foto: (Sumber: Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan tantangan terbesar bagi Indonesia dan ASEAN adalah memastikan teknologi tersebut dapat diakses secara merata oleh ratusan juta penduduk di kawasan. ANTARA/HO-Komdigi)

Pantau - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menekankan bahwa transformasi digital di kawasan ASEAN tidak cukup hanya diukur dari adopsi teknologi canggih atau nilai ekonomi digital, melainkan dari sejauh mana teknologi tersebut memberi manfaat secara merata kepada masyarakat.

Literasi Digital dan Inklusivitas Jadi Kunci Keberhasilan

Menurut Meutya, narasi tentang kecepatan digital sering kali terjebak dalam indikator adopsi Artificial Intelligence (AI) dan pertumbuhan ekonomi digital semata.

"Narasi kecepatan digital kerap terjebak pada angka adopsi Artificial Intelligence (AI) dan nilai ekonomi digital. Padahal, tantangan terbesar bagi Indonesia dan ASEAN adalah memastikan teknologi tersebut dapat diakses secara merata oleh ratusan juta penduduk di kawasan", ujarnya.

Ia menekankan bahwa inklusivitas adalah elemen penting dalam kesiapan digital, terutama di tengah bonus demografi yang dimiliki negara-negara Asia Tenggara.

“Bonus demografi hanya akan bermanfaat jika mereka terampil. Jadi, kita harus melihat seberapa cepat kita bisa mengedukasi dan meliterasi rakyat kita”, tambahnya.

Meutya juga menyampaikan bahwa kecepatan pembangunan infrastruktur digital harus seiring dengan percepatan literasi digital, terutama bagi generasi muda.

Menurutnya, tanpa literasi yang memadai, masyarakat tidak akan mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.

ASEAN Matangkan Kerangka Ekonomi Digital Regional

Meutya Hafid mengungkapkan bahwa ASEAN saat ini sedang menyusun Digital Economic Framework Agreement (DEFA) sebagai kerangka kerja kolektif untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan.

Ia menjelaskan bahwa DEFA bukan sekadar perjanjian dagang, tetapi akan berfungsi sebagai semacam sistem operasi yang memperkuat konektivitas digital lintas negara di ASEAN.

Salah satu wujud nyata dari kerja sama digital regional adalah interoperabilitas sistem pembayaran digital, di mana QRIS dari Indonesia kini sudah bisa digunakan di Thailand dan Malaysia.

Ia juga menyoroti kekuatan strategis ASEAN yang bersumber dari posisi netral kawasan tersebut di tengah dinamika global.

“Netralitas ASEAN memberikan kepastian bahwa keterbukaan kawasan ini selalu tersedia bagi seluruh dunia”, tegas Meutya.

Posisi ini dinilai membuka pintu investasi dan akses teknologi yang lebih luas bagi semua negara anggota tanpa bergantung pada kutub kekuatan tertentu.

Penulis :
Aditya Yohan