Pantau Flash
Hak Asimilasi Napi yang Berulah Usai Dibebaskan Bakal Dicabut
Italia Berencana Perpanjang Lockdown hingga 3 Mei
FIFPro Ingatkan Ancaman Kesehatan Mental Pesepak Bola
3 BUMN Patungan Sediakan 80 Ribu APD untuk Rumah Sakit
Dari 256 Pasien Korona di Jatim, 63 di Antaranya Berhasil Sembuh

Alasan Indonesia Masih Gunakan Batu Bara saat Eropa dan China Beralih

Alasan Indonesia Masih Gunakan Batu Bara saat Eropa dan China Beralih Batubara Australia di pelabuhan (Foto: AAP/Dave Hunt)

Pantau.com - Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menggunakan sumber-sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Komitmen tersebut tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menyatakan tahun 2025 mendatang bauran energi nasional pemanfaatan sumber energi berbasis energi baru terbarukan mencapai 23 persen.

Proses pengalihan pemanfaatan sumber energi berbasis fosil ke energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia menurut Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar memerlukan waktu, seperti yang juga terjadi di negara-negara Eropa dan Tiongkok (China). Pada waktunya sumber-sumber energi berbasis fosil akan tergantikan oleh sumber energi terbarukan.

"Produksi batubara nasional kita sekitar 480 juta ton, 20-25 persen di antara untuk kebutuhan domestik, yang sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)," ujar Arcandra. 

Baca juga: Miris, Pengusaha Ayam Jual Mobil hingga Ruko karena Harga Anjlok

Kemudian, lebih dari 50 persen pembangkit listrik saat ini masih menggunakan batubara, tahun 2025 ditargetkan 23 persen sumber energi berasal dari energi terbarukan, sedangkan sisanya menggunakan gas dan BBM.

"Kita tidak mempunyai kebebasan untuk memilih. We don't have any freedom untuk mengatakan kita mempunyai sumber energi lain. Ini bukan nice to have lagi, tapi need to have. Renewable energy itu need to have, karena resources itu makin lama makin habis," tambah Arcandra.

Arcandra menjelaskan mengapa saat ini Pemerintah Indonesia masih menggunakan batubara sebagai sumber energi. Pengalihan sumber energi dari batubara menjadi EBT akan dilakukan secara bertahap seperti yang dilakukan negara-negara Eropa dan Tiongkok, mereka mengalihkan sumber energinya setelah ekonomi mereka berjalan.

Baca juga: Impor 2018 Meroket, Faisal Basri: Pak Enggar Ciptakan Jalan Tol

"Negara Eropa maju, memulai revolusi industrinya dengan menggunakan batubara sebagai sumber bahan bakarnya, setelah ekonominya jalan itulah jalan menurun, sedikit demi sedikit mereka mulai meninggalkan batubara," ungkapnya.

Mereka meninggalkan batubara setelah engine of economic mereka berjalan. Demikian pula dengan China, pada awal-awal negara tirai bambu itu tumbuh banyak beroperasi PLTU-PLTU batubara sebagai sumber energi listrik mereka untuk menghidupkan industrinya, sehingga saat itu Beijing memiliki tingkat polusi udara yang tinggi, namun sekarang setelah engine of economic mereka jalan, mereka mulai meggunakan renewable energy.

Baca juga: Ekonomi China Mulai Pulih Pasca Guyuran Kredit

Saat ini Indonesia masih memerlukan batubara sebagai sumber energi yang murah, selain agar harga listriknya terjangkau masyarakat juga untuk menggerakkan perekonomian agar produk-produk yang dihasilkan dapat berkompetisi di pasar dunia. Namun tahap berikutnya, energi terbarukan akan didorong sehingga tahun 2025 porsi 23 persen akan tercapai. Saat ini masa transisi.

"Kita masih memerlukan sumber energi yang murah agar produk-produk yang kita hasilkan dapat berlompetisi dengan produk dari negara lain. Kalau sumber energinya mahal akan susah berkompetisi dengan negara lain untuk kebutuhan ekspor kita," pungkas Arcandra.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: