Pantau Flash
Bea Cukai Jangkau Masyarakat Sekitar dengan Bahasa Madura
Bawaslu: Tren Tertinggi Pelanggaran Netralitas ASN Terjadi Via Medsos
Hasto: Politik Industri di Indonesia Harus Berpedoman Pancasila
Kasus Baru COVID-19 di China Daratan Ada 33 Laporan
Tak Ikuti SE Menaker, Ganjar Naikkan UMP Jateng 2021 3,27 Persen

Ini Pesan Menkeu Jelang Resesi Ekonomi

Ini Pesan Menkeu Jelang Resesi Ekonomi Ilustrasi Resesi. (Foto: Antara)

Pantau.com - Berdasarkan laporan International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook, memperkirakan ekonomi global akan tumbuh negatif 4,4% pada tahun 2020. Pasalnya ini dampak dari pandemi COVID-19.

Meskipun terdapat tanda-tanda pemulihan bertahap. Namun, perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian yang tinggi.

"Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 menegaskan kembali komitmennya dalam menggunakan semua kebijakan luar biasa (extra ordinary policy tools) dalam melindungi masyarakat, lapangan kerja, pemulihan ekonomi, dan ketahanan sistem keuangan, dengan secara hati-hati mengelola potensi risiko terhadap penurunan ekonomi," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam video virtual.

Baca juga: Indonesia Resesi, Kemenkeu: Harus Dihadapi dan Dimanfaatkan

Sri Mulyani menilai Indonesia bersama G20 berkomitmen dalam melanjutkan kerjasama bidang perpajakan guna mewujudkan sistem perpajakan internasional yang adil, berkelanjutan, dan modern.

"Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi perkembangan pembahasan perpajakan terkait ekonomi digital. G20 menyambut baik Laporan mengenai Blueprint Pilar 1 dan Pilar 2 yang telah disetujui untuk disampaikan kepada publik (public release) oleh G20/OECD Inclusive Framework on Base Erosion and Profit Shifting (BEPS)," katanya.

Ia menambahkan, blueprint ini dipandang sebagai basis yang kuat untuk melanjutkan pembahasan atas isu-isu yang masih tersisa dan diharapkan kesepakatan global akan dapat dicapai pada pertengahan tahun depan.

Baca juga: Begini Kaca Mata Bank Dunia Soroti Polemik UU Cipta Kerja

“Indonesia menyambut baik Blueprint Pilar 1 dan Pilar 2 sebagai pondasi untuk mencapai konsensus global. Penerimaan perpajakan sangat penting bagi semua negara. Oleh karena itu, Indonesia mendukung upaya-upaya untuk mencapai konsensus global yang efisien, sederhana, setara, dan transparan, yang dapat meminimalisasi distorsi akibat kesenjangan antara perkembangan/transformasi teknologi dengan rezim perpajakan saat ini,” paparnya.

G20 menyambut baik G20 Roadmap to Enhance Cross-Border Payments yang disampaikan oleh Financial Stability Board (FSB) dalam rangka mendukung transaksi pembayaran yang transparan, inklusif, cepat, dan murah, termasuk transaksi remitansi. G20 juga mendukung rekomendasi FSB atas pentingnya regulasi dan pengawasan yang konsisten dan efektif terhadap perkembangan global stablecoins di seluruh yurisdiksi serta pemantauan atas penerapannya.

Hal ini terkait dengan potensi penyalahgunaan aset virtual, termasuk global stablecoins, dalam pencucian uang (money laundering) dan pendanaan teroris (terrorism financing). Negara-negara G20 juga menyambut baik G20 2020 Financial Inclusion Action Plan dengan prioritas pada pembiayaan UKM dan inklusi keuangan digital (digital financial inclusion).

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: