Pantau Flash
Gagal Jantung dan Terinfeksi Korona, Komedian Eddie Large Meninggal Dunia
Para Eksportir Belum Diwajibkan Konversi Dolar ke Rupiah
Fit and Proper Test Cawagub DKI Jakarta Direncanakan Hari Ini
Pengajuan Bebas Bersyarat Roro Fitria Dikabulkan Kemenkum HAM
Arab Saudi Lockdown Mekah dan Madinah

Saat Pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela Jadi Bahasan Seksi FGD

Headline
Saat Pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela Jadi Bahasan Seksi FGD Off Shore (Foto: Instagram/Kementerian ESDM)

Pantau.com - Blok Masela, salah satu blok Migas Abadi yang dimiliki oleh Indonesia ini telah memasuki babak baru. Dimana pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela atau ladang gas Abadi yang diperkirakan akan menampung 6,97 triliun kaki kubik (tcf) gas masih terus berjalan.

Selain itu, Blok Masela diproyeksikan dapat memproduksi gas 421 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dan minyak diproyeksikan sekira 8.400 barel per hari. Blok Masela yang ada di darat (on shore) akan menambah lapangan pekerjaan. Bahkan turut menghidupkan sektor-sektor lainnya.

Memastikan proyek ini berjalan sesuai koordinasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, SKK Migas mendukung penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Industri Migas.

FGD tersebut mengambil tema "Peningkatan Kapasitas Penguasaan Teknologi Laut Dalam Melalui Pengembangan Lapangan Abadi Masela". 

Baca juga: Dari Laut ke Darat, Blok Masela Jadi Ladang Surga Gas Abadi Indonesia

Rektor ITS, Mochamad Ashari mengharapkan pemerintah, SKK Migas dan INPEX untuk membuka peran perguruan tinggi untuk terlibat di proyek Abadi, karena momen proyek Abadi Abadi Masela adalah kesempatan membangun kualitas SDM bangsa dan meningkatkan kualitas perguruan tinggi agar dimasa mendatang output yang dihasilkan semakin baik dan sesuai kebutuhan industri. 

"ITS memiliki kompetensi dari aspek keilmuan maupun berbagai fasilitas penelitian. Saat ini ITS memiliki 8 research center dan mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak," ujarnya.

Sementara itu, Nico Muhyiddin, Vice President Inpex Coorporation menerangkan, INPEX telah hadir sejak 1967 di Indonesia atau lebih dari 50 th, pertama kali di mengembangkan lapangan Balikpapan. Pada 1999 INPEX mengebor di Masela. Ditemukan sumur pertama kali tahun 2000. Sejak hadir di Masela, INPEX telah dibantu ITS dan Univ Pattimura dan terus disupport SKK Migas.

"Langkah kedepan akan banyak pekerjaan di darat dan laut serta diluar wilayah operasi di Masela. Akan ada pekerjaan yang dilakukan di Batam sampai Papua," ungkapnya.

Baca juga: Pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela Sudah di Depan Mata

Ia tegas menegaskan harapannya adalah keterlibatan vendor dari teknologi, jasa dan service, serta manpower. Termasuk Universitas diharapkan keterlibatan sesuai disiplin ilmu tertentu dan operator.

Dikesempatan yang sama, Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto menyampaikan bahwa proyek Masela adalah momentum bangsa Indonesia membangun kemandirian teknologi dimasa mendatang. Investasi pembangunan kilang di Masela yang mencapai USD 19,8 miliar tentu memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terlebih penggunaan lokal konten pada proyek tersebut.

"Pemberdayaan lokal people, terkait aspek SDM di proyek Masela, menjadi kesempatan emas bagi anak bangsa untuk terlibat, serta peran perguruan tinggi untuk dapat berkolaborasi dengan INPEX salah satunya dengan penyiapan tenaga kerja Indonesia termasuk tenaga kerja lokal agar siap dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan di proyek Masela," jelasnya.

Pada sesi diskusi, umumnya peserta FGD mengharapkan agar Indonesia mampu menggunakan momentum pengembangan Lapangan Gas Abadi Masela dalam penguasan teknologi laut dalam, jangan sampai menjadi kerugian jangka panjang bangsa Indonesia.

Bila ini terjadi maka masyarakat Indonesia tidak akan banyak berperan dalam fase pengembangan maupun dalam fase operasinya nanti. Otomatis, penguasaan teknologi beserta kegiatan turunannya tidak akan menjadi bagian dari Indonesia. 

Tentu Indonesia perlu belajar dari apa yang terjadi di lapangan Gas Arun yang saat ini sudah berhenti beroperasi yang tidak memberikan dampak pada kemampuan penguasaan teknologi anak bangsa.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: