Pantau Flash
2 Korban Hanyut SMPN 1 Turi Ditemukan, 1 Masih Dalam Pencarian
2.345 Orang di China Meninggal Akibat Virus Korona
Jubir Presiden Jokowi: Evakuasi WNI dari Yokohama Segera Dilakukan
PGRI Ungkap Pentingnya Pendidikan Moral Pancasila Dihidupkan Kembali
Kemenkes Khawatir WNI di Diamond Princess Terjangkit Korona Tanpa Gejala

Inikah Babak Akhir Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi?

Inikah Babak Akhir Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi? Seorang demonstran memegang gambar wartawan Jamal Khashoggi selama protes di depan Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. (Foto: Reuters/Osman Orsal)

Pantau.com - Lima pelaku pembunuhan keji wartawan ternama Washiongton Post, Jamal Khashoggi, akhirnya dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan berencana yang dilakukan di Istanbul pada Oktober tahun lalu. Namun, sayangnya dua tokoh utama yang diselidiki atas pembunuhan itu telah dibebaskan. Inikah babak akhir dari perjalanan kasus pembunuhan keji Jamal Khashoggi?

"Pengadilan menjatuhkan hukuman mati pada lima pria yang secara langsung mengambol bagian dalam pembunuhan tersebut," kata jaksa penuntut, Shalaan al-Shalaan dalam sebuah pernyataan pada Senin (23/12) waktu setempat.

Namun, dua tokoh utama dalam pembunuhan brutal tersebut, yakni wakil kepala intelijen Ahmed al-Assiri dengan perintah dari mantan penasihat Putra Mahkota MbS, Saud al-Qahtani, dibebaskan.

Dilansir Al Jazeera, Selasa (24/12/2019), al-Qahtani disebutkan telah diselidiki tetapi tidak didakwa lantaran kurangnya bukti. Sementara al-Assiri yang juga diselidiki akhirnya dibebaskan dengan alasan yang sama.

Selain itu, pengadilan juga memutuskan bahwa konsul jenderal Saudi di Istanbul pada saat itu, Mohammed al-Otaibi, tidak bersalah. Dia dibebaskan dari penjara setelah vonis diumumkan, menurut TV pemerintah.

Dari 11 orang pelaku pembunuhan Khashoggi yang tak disebutkan identitasnya, lima orang dijatuhi hukuman mati, sementara tiga orang dijatuhi hukuman penjara 24 tahun, dan yang lain dibebaskan. Identitas semua pelaku tidak disebutkan.

Persidangan terhadap terdakwa dilakukan dalam kerahasiaan, meskipun beberapa diplomat termasuk dari Turki, serta anggota keluarga Khashoggi tetap diizinkan untuk menghadiri sesi tersebut.

Baca juga: Kejaksaan Arab Saudi Jatuhi Hukuman Mati untuk Pembunuh Khashoggi

Pembunuhan Khashoggi

Pembunuhan warga negara Amerika Serikat ini telah mengejutkan dunia pada tahun lalu. Khashoggi yang merupakan seorang kritikus Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MbS) ini tinggal di pengasingan di AS. Setelah diberi status kependudukan, Khashoggi mulai membangun jaringan antara Washington, Istanbul, London dan ibu kota dunia lainnya.

Tekanan politik telah memaksanya untuk keluar dari Saudi. Di AS, ia memulai menulis kolom opini untuk Washington Post. Ia vokal mengkritik kebijakan luar negeri Arab Saudi dan penindasan, yang mengarah langsung kepada MbS. 

Dalam tulisan pertamanya untuk Post, Khashoggi mengecam penangkapan para aktor intelektual Saudi di bawah kepemimpinan MBS. Ia mengatakan bahwa "Arab Saudi tidak selalu represif. Namun saat ini tak tertahankan".

Seorang jurnalis Indonesia memegang plakat saat protes atas hilangnya wartawan Saudi Jamal Khashoggi di depan Kedubes Arab Saudi di Jakarta, Indonesia. (Foto: Reuters/Beawiharta)

"Ketakutan, intimidasi, penangkapan, dan mempermalukan para intelektual di hadapan publik, serta penangkapan pemimpin agama yang berani mengutarakan pendapat mereka," seperti yang dikatakan Khashoggi dalam tulisan pertamanya September 2017, dikutip dari Washington Post.

Khashoggi berencana untuk menikah dan bermukim di Turki dengan tunangannya Hatice Cengiz, yang merupakan alasan kunjungannya ke Konsulat Arab Saudi. Bersama dengan Cengiz, Khashoggi mengunjungi konsulat untuk mengambil dokumen pernikahannya. Namun, Cengiz yang menunggu di luar gedung tersebut tak pernah melihat kembali Khashoggi keluar dari gedung itu sampai saat ini. 

Rekaman audio, CCTV, serta bukti forensik semuanya mengarah pada cerita mimpi buruk; Khashoggi dibunuh oleh regu pembunuh. Tubuhnya kemudian dimutilasi. Konsulat Saudi yang menjadi TKP digosok bersih dan tubuhnya dibuang. Keberadaan jasadnya yang terpotong-potong sampai saat ini masih belum diketahui. Semua operasi pembunuhan Khashoggi ini dilakukan dengan sangat hati-hati.

Sejumlah laporan dari pemerintahan Barat percaya MBS telah memerintahkan pembunuhan Khashoggi seperti laporan PBB dan CIA. Presiden Turki Erdogan bahkan menyerukan penyelidikan internasional untuk pembunuhan Khashoggi. Namun, semua itu dibantah oleh Kerajaan Saudi. 

Baca juga: Mbs: Saya Terima Semua Tanggung Jawab Atas Kematian Jamal Khashoggi

Komentar atas vonis pengadilan

Mengomentari vonis yang dijatuhi pegadilan Saudi, Turki dan kelompok hak asasi internasional tetap mengecam putusan pengadilan karena dianggap gagal memberikan keadilan.

Meski lima orang telah dijatuhi hukuman mati, namun dua tokoh utama dalam pembunuhan tersebut yang dekat dengan MbS dibebaskan. Kantor kejaksaan Saudi mengatakan total 31 orang diselidiki sehubungan dengan pembunuhan itu, dan 11 orang didakwa. Tiga dijatuhi hukuman penjara total 24 tahun dan sisanya dibebaskan. Tidak ada nama terdakwa yang segera dibebaskan.

"Investigasi menunjukkan bahwa pembunuhan itu tidak direncanakan. Keputusan diambil secara mendadak," kata Wakil Jaksa Penuntut Umum Saudi Shalaan al-Shalaan, sebuah posisi yang bertentangan dengan temuan penyelidikan yang dipimpin PBB.

Orang-orang menghadiri pemakaman simbolis dan doa untuk Jamal Khashoggi di halaman Masjid Fatih di Istanbul. (Foto: Reuters/Huseyin Aldemir)

Juru bicara Human Rights Watch Ahmed Benchemsi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa persidangan itu 'sangat memuaskan'. "Kasus ini diselimuti kerahasiaan sejak awal dan masih banyak rahasia sampai sekarang. Kami tidak tahu identitas para pelaku bertopeng itu, kami tidak tahu tuduhan khusus ditujukan pada siapa sebenarnya," kata Benchemsi.

"Jaksa Saudi bahkan tidak berusaha untuk menyelidiki tingkat atas kejahatan ini, dan apakah mereka memainkan peran dalam memerintahkan pembunuhan, termasuk Putra Mahkota Mohammed bin Salman."

Turki menggambarkan putusan itu sebagai 'skandal' dan mengatakan mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu telah diberikan kekebalan hukum. "Mereka yang mengirim pasukan kematian ke Istanbul dengan jet pribadi dan berusaha menyapu pembunuhan ini di bawah permadani telah diberikan kekebalan," ujar ajudan pembantu Presiden Recep Tayyip Erdogan, Fahrettin Altun, di Twitter.

Sementara itu, tunangan Khashoggi Hatice Cengiz mengatakan bahwa dirinya tidak puas atas putusan tersebut. Ia mengatakan bahwa "pengumuman Saudi tidak dapat diterima". Kendati demikian, putra Khashoggi, Salah Khashoggi, mengatakan bahwa keluarga telah mendapat keadilan, berkat vonis penuntut umum Arab Saudi. 

"Hari ini kami telah diberikan keadilan sebagai anak-anak dari almarhum, insya Allah, Jamal Khashoggi. Kami menegaskan kepercayaan kami pada peradilan Saudi di semua tingkatan, bahwa itu adil bagi kami dan keadilan telah tercapai," katanya dalam sebuah posting Twitter.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW
Category
Internasional

Berita Terkait: