Pantau Flash
Tim SAR Kerahkan 4 Helikopter ke Paniai Evakuasi Heli PT NUH
Total Kasus Positif di Lingkungan KPK Mencapai 115 Orang
Pesawat Dabi Air Ditembaki di Bandara Bilogai Papua oleh KKB
Belum Bayar Utang ke Negara, Bambang Trihatmodjo Dicegah ke Luar Negeri
Ketua KPU RI Arief Budiman Positif COVID-19

Penyelidikan Awal: Kelalaian Jadi Penyebab Ledakan Masif di Beirut

Penyelidikan Awal: Kelalaian Jadi Penyebab Ledakan Masif di Beirut Suasana yang memperlihatkan lokasi pascaledakan di daerah pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). (Foto: Reuters/Aziz Taher via Antara)

Pantau.com - Penyelidikan awal terkait ledakan masif di Beirut menunjukkan adanya kelalaian karena tidak adanya tindakan selama bertahun-tahun atas penyimpanan bahan bakar yang berujung ledakan dengan memakan korban 100 orang pada Selasa, 4 Agustus 2020.

Presiden Lebanon menyatakan bahwa 2.750 ton amonium nitrat disimpan selama enam tahun di pelabuhan tanpa adanya langkah-langkah keamanan. Amonium nitrat biasa digunakan untuk pupuk dan bom.

Sumber pejabat pemerintahan mengatakan bahwa masalah keamanan penyimpanan bahan-bahan tersebut telah dibawa ke sejumlah komite dan hakim, namun tidak ada yang dilakukan untuk mengeluarkan perintah pemindahan atau pembuangan bahan itu.

"Ini adalah kelalaian," kata seorang sumber pemerintah kepada Reuters, Rabu (5/8/2020). Sumber itu mengatakan api mulai membakar gudang nomor 9 di pelabuhan dan menjalar ke gudang 12, di mana amonium nitrat disimpan.

Baca juga: Korban Tewas Ledakan di Beirut Lebanon Bertambah Jadi 100 Orang

Ledakan di ibu kota Lebanon itu merupakan yang paling kuat yang pernah diderita oleh Beirut, sebuah kota yang masih dilanda perang saudara tiga dasawarsa lalu dan dilanda krisis keuangan yang berakar karena korupsi selama puluhan tahun serta buruknya pengelolaan ekonomi.

Direktur Jenderal Bea Cukai Lebanon Badri Daher mengatakan kepada penyiar LBCI bahwa bea cukai telah mengirim enam dokumen ke pengadilan serta memperingatkan bahwa bahan itu menimbulkan bahaya.

"Kami meminta agar diekspor kembali tetapi itu tidak terjadi. Kami serahkan kepada para ahli dan mereka yang terkait untuk menentukan alasannya," kata Daher.

Sumber lain yang dekat dengan seorang karyawan pelabuhan mengatakan sebuah tim yang memeriksa amonium nitrat enam bulan lalu memperingatkan bahwa jika tidak dipindahkan itu akan "meledakkan seluruh Beirut".

Menurut dua dokumen yang dilihat oleh Reuters, Bea Cukai Lebanon telah meminta pengadilan pada tahun 2016 dan 2017 meminta agen maritim yang bersangkutan untuk mengekspor kembali atau menyetujui penjualan amonium nitrat, dikeluarkan dari kapal kargo, Rhosus, dan disimpan di gudang 12, untuk memastikan keamanan pelabuhan.

Baca juga: Presiden Lebanon Siapkan Hukuman Berat Terkait Ledakan Dahsyat di Beirut

Salah satu dokumen mengutip permintaan serupa pada 2014 dan 2015. "Investigasi lokal dan internasional perlu dilakukan terhadap insiden tersebut, mengingat skala dan keadaan di mana barang-barang ini dibawa ke pelabuhan," kata Ghassan Hasbani, mantan wakil perdana menteri dan anggota partai Pasukan Lebanon.

Shiparrested.com, sebuah jaringan industri yang berurusan dengan kasus-kasus hukum, telah mengatakan dalam sebuah laporan 2015 bahwa Rhosus, berlayar di bawah bendera Moldova, merapat di Beirut pada September 2013 ketika mengalami masalah teknis dalam pelayaran dari Georgia ke Mozambik dengan 2.750 ton amonium nitrat.

Dikatakan bahwa, setelah diperiksa, kapal itu dilarang berlayar dan tak lama kemudian ditinggalkan oleh pemiliknya, yang mengarah ke berbagai kreditor yang mengajukan tuntutan hukum.

"Karena risiko yang terkait dengan mempertahankan amonium nitrat di atas kapal, otoritas pelabuhan mengeluarkan muatan ke gudang pelabuhan," tambahnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: